Metode membaca nyaring secara ekspresif dan interaktif. Mahasiswa menggunakan variasi intonasi suara, mimik wajah yang ekspresif, serta gerakan tubuh yang mendukung isi cerita agar anak-anak semakin tertarik dan larut dalam alur cerita.
Setelah membaca, sesi berlanjut dengan diskusi ringan. Anak-anak diajak mengulas isi cerita melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang melatih daya ingat, memperluas pengetahuan, dan memperkuat pemahaman terhadap bacaan yang disampaikan.
Aktivitas ini untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membangun keberanian anak untuk berbicara, serta menumbuhkan kebiasaan membaca secara aktif. Sebagai bentuk motivasi dan penghargaan, mahasiswa memberikan hadiah kecil kepada siswa yang aktif dalam sesi diskusi.
BACA JUGA: Kisah Achmad Rasyid, Dari Bongkar Pasang Mobil Mainan hingga Masuk Universitas Top Dunia
Partisipasi Anak
Semua peserta juga mendapatkan stiker menarik sebagai bentuk apresiasi agar setiap anak merasa terlibat dan mendapat apresiasi. Sistem penghargaan ini terbukti efektif dalam meningkatkan partisipasi anak dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan penuh semangat.
Anak-anak yang awalnya pasif pun mulai menunjukkan keberanian untuk menjawab dan bertanya sehingga suasana kelas lebih hidup dan dinamis. Program ini tidak hanya menjadi kegiatan sementara, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan budaya literasi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Mahasiswa KKN-T Literasi UNDIP 169 Kelompok 2 memandang bahwa peningkatan minat baca tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas fisik seperti buku atau perpustakaan, tetapi harus ditunjang oleh pendekatan kreatif, dukungan guru, dan keterlibatan langsung anak-anak dalam proses membaca. Oleh karena itu, kegiatan ini mengutamakan interaksi, penghargaan, dan keterlibatan aktif semua pihak.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang pembelajaran bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Interaksi langsung dengan siswa dan guru membuka wawasan baru mengenai tantangan literasi di tingkat sekolah dasar, terutama di daerah pedesaan. Pengalaman ini memberikan nilai tambah dalam pembelajaran di luar kampus dan memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan di bidang pendidikan.





