“Peziarah sebenarnya banyak, mohon bisa kembali diperhatikan agar wisatawan juga nyaman. Selain itu butuh di bangun pagar, karena banyak anak-anak yang bermain di sungai dan cukup membahayakan,” tambahnya.
Untuk perawatan sehari-hari, ia mengaku hanya mengandalkan sedekah dari peziarah yang datang setiap hari dan kemudian di kumpulkan.
Itupun jumlahnya tidak seberapa, kadang terkumpul Rp 100 ribu, kadang lebih. Uang sebesar itupun habis untuk membayar listrik yang tiap bulannya sekitar Rp 100 ribu.
“Saya berharap kepada pemkot untuk lebih memperhatikan, misal mengganti lampu dan perbaikan lainnya. Apalagi kamar mandi yang ada masih belum jadi,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





