“Kami sangat mengimbau kepada masyarakat Jateng ya, tidak perlu panic buying dengan euforia tren [dugaan beras oplosan] ini. Yang jelas dari pemerintah akan berupaya, karena sebetulnya tidak [ada temuan beras oplosan]. Apabila terjadi, itu hanya oknum,” pungkasnya.
Berdasarkan data Disperindag Jateng, harga beras medium rata-rata terus naik, dari Rp13.329 per kilogram pada 7 Juli 2025, kini menjadi Rp13.366 per kilogram pada 14 Juli 20025. Sementara beras premium tercatat Rp15.132 per kilogram.
Daftar merek beras oplos dari Kementerian Pertanian
Sebelumnya, Amran Sulaiman mengungkap temuan mencengangkan. Sebanyak 212 merek beras menurut dugaan melakukan pengoplosan dan pelanggaran standar mutu. Temuan ini merupakan hasil pemeriksaan lapangan bersama Satgas Pangan Polri dan tim Kementerian Pertanian.
Modus pengoplosan beras tidak hanya merugikan konsumen secara kualitas, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi yang perkiraan mencapai Rp99 triliun per tahun.
“Ini seperti menjual emas 18 karat tapi bilangnya 24 karat. Padahal harganya jelas beda. Konsumen kita merugi hampir Rp100 triliun,” ungkap Amran, Senin, 14 Juli 2025.
Menurut Amran, berbagai merek tersebut tidak memenuhi standar berat kemasan, komposisi, dan labelisasi yang seharusnya.
Beberapa merek tercatat menawarkan kemasan 5 kilogram (kg) padahal isinya hanya 4,5 kg. Lalu banyak di antaranya mengklaim beras premium, padahal sebenarnya berkualitas biasa.
BACA JUGA: Pedagang di Blora Keluhkan Kenaikan Harga Beras yang Berlangsung Hampir Sebulan
Beras oplosan sendiri merupakan campuran beras dari beberapa jenis atau kualitas berbeda yang kemudian penjualannya berlabel beras premium atau medium, namun tidak sesuai dengan isi sebenarnya.
Praktik itu sangat merugikan konsumen lantaran harga jual beras tersebut lebih mahal dari kualitas aslinya, berat bersih dalam kemasan sering kali kurang dari yang tertera, dan label produk menyesatkan dan tidak sesuai standar.





