SEMARANG, beritajateng.tv – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta unjuk rasa atau demonstrasi yang berlangsung di beberapa titik se-Jawa Tengah tak menganggu investasi maupun pertumbuhan ekonomi.
“Intinya kita harus menciptakan rasa aman bersama-sama. Rasa aman itu tidak dilakukan oleh pemerintah, tetapi dengan seluruh stakeholder termasuk potensi masyarakat. Sehingga jaminan keamanan, ketertiban, menjadi daya tarik tersendiri untuk Jawa Tengah terkait dengan investasi,” ujarnya saat dijumpai di kantornya, Kamis, 4 September 2025 sore.
Luthfi mengklaim pertumbuhan ekonomi dan investasi di Jawa Tengah sudah mulai tumbuh. Oleh sebabnya, Luthfi meminta jangan sampai demonstrasi yang berlangsung di beberapa titik mengganggu hingga membatalkan minat calon investor ke Jawa Tengah.
BACA JUGA: Cegah Provokasi Demo, Polda Jateng Awasi TikTok hingga WhatsApp
“Karena investasi di Jawa Tengah sudah mulai tumbuh; pertumbuhan ekonomi sudah 5,28 persen ya di atas nasional. Itu tidak boleh terganggu oleh adanya ketidakamanan kita,” tegas Luthfi.
Mantan Kapolda Jawa Tengah itu pun meyakini seluruh kepala daerah sudah menjaga keamanan masing-masing wilayahnya.
“Saya yakin dan percaya di wilayah kita, seluruh bupati/wali kota sudah punya road map untuk menjaga keamanan wilayahnya masing-masing dan itu sesuai dengan ketentuan bahwa seluruh kabupaten/kota, seluruh petugas, seluruh stakeholder yang ada untuk ikut serta memberikan jaminan keamanan,” jelas Luthfi.
Ada 16 daerah terdampak unjuk rasa merusak, Luthfi: Kota Pekalongan terparah
Lebih lanjut, Luthfi mengungkap sejumlah fasilitas umum yang mengalami kerusakan telah dilakukan pencatatan dan dalam proses perbaikan.
“Masih dihitung ya, tapi prinsip ini sudah mulai berjalan, sudah mulai diperbaiki. Biar tidak terjadi hal serupa,” ucap dia.
Berdasarkan keterangannya, ada 16 daerah di Jawa Tengah yang mengalami kerusakan cukup parah pascademonstrasi.
BACA JUGA: Investor Cina-Korsel Tunda Pertemuan Imbas Demo, DPMPTSP: Tak Ada Pembatalan Investasi di Jateng
“16 kabupaten/kota, ya ora apal (tidak hafal), pokoknya 16. Ada yang hanya roboh pagar, ada kacanya pecah, itu biasalah kecil,” sambung Luthfi.
Sementara itu, Luthfi menyebut kerusakan fasilitas umum terparah terjadi di Kota Pekalongan.
“Terparah di Pekalongan Kota, itu gedung DPR ya,” pungkasnya.
Calon investor Tiongkok dan Korea Selatan tunda pertemuan
Sebelumnya, imbas aksi unjuk rasa yang terjadi di beberapa daerah, calon investor asal Tiongkok dan Korea Selatan me-reschedule jadwal pertemuan dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah.
Hal itu terungkap oleh Kepala DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, saat beritajateng.tv jumpai di kantornya pada Rabu, 3 September 2025.
“Memang ada beberapa calon investor penanaman modal asing (PMA) yang melakukan reschedule atau menunda ya. Harusnya akan hadir di akhir Agustus atau awal bulan September ini, namun menginfokan untuk menggeser,” ujar Sakina.
Sakina mengaku mendapat kabar dari calon investor Tiongkok itu melalui aplikasi WeChat. Mereka tak hanya menunda pertemuan dengan DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah.
Ia menyebut beberapa investor asal China juga menunda pertemuan dengan pengelola kawasan industri dan DPMPTSP di kabupaten/kota.
BACA JUGA: Sesalkan DPR RI Tak Terima Demonstran, Pengamat Unika: Gak Cukup Minta Maaf Lewat Medsos
“Kami [komunikasi] lewat WeChat, jadi karena calon investor dari China mengabarkan kalau menggeser waktunya dan akan menginfokan lebih lanjut. Kemudian hasil komunikasi dengan pengelola kawasan industri dan 35 kabupaten/kota, ada beberapa yang seperti itu,” sambung Sakina.
Kendati para calon investor menunda pertemuan, Sakina memastikan belum ada pembatalan investasi dari Tiongkok maupun Korea Selatan di Jawa Tengah.
“Kami tentunya berharap ini memang menunda; menunda sampai situasi dan kondisi keamanan kondusif dan kemudian tidak membatalkan, harapannya tentunya seperti ini. Kami masih menunggu, tetapi sampai dengan detik ini memang tidak ada rencana pembatalan dari mereka. Mereka baru menunda ya,” tegas Sakina. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





