Pendidikan

Mengunjungi ‘SD Kartini’, Sekolah Perempuan Pertama di Kota Semarang yang Berawal dari Surat-surat RA Kartini

×

Mengunjungi ‘SD Kartini’, Sekolah Perempuan Pertama di Kota Semarang yang Berawal dari Surat-surat RA Kartini

Sebarkan artikel ini
SDN Sarirejo 'Kartini'
SDN Sarirejo ‘Kartini’ yang terletak di Jalan RA. Kartini Nomor 151, Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Raden Ajeng (RA) Kartini merupakan salah satu pelopor pendidikan khususnya untuk perempuan. Ia kemudian menuangkan pemikiran-pemikiran melalui surat-suratnya.

Di Semarang, terdapat satu sekolah yang berdiri berkat perjuangan dan pemikiran Kartini. Sekolah tersebut adalah SDN Sarirejo.

Jika berkunjung langsung, beberapa papan nama di SDN Sarirejo masih menggunakan kata ‘SD Kartini’. Seperti hiasan taman maupun hiasan kolam.

Jejak-jejak peninggalan Sekolah Kartini pun masih terasa di sekolahnya. Salah satunya adalah satu bangunan utama yang saat ini menjadi ruang kelas dan juga ruang guru.

Tampak desain dan konsep gedung tersebut memang masih mengusung gaya kolonial Belanda. Atap-atap yang tinggi, jendela yang besar, hingga kayu jati yang kokoh.

“Dulu (pintu masuk SD) masih di deket lampu merah, dan gedung sekolah menghadap ke Jalan Dokter Cipto. Gedung utama ruang kelas masih asli,” kata salah satu guru senior SDN Sarirejo, Suwarni kepada beritajateng.tv pada Rabu, 17 April 2024.

Suwarni menjelaskan, berdasarkan cerita guru sepuh dan berbagai literatur, sekolah ini dulunya adalah Sekolah Kartini. Pembangunan sekolah berawal dari pembentukan komite pada 1912 oleh Abendanon dan Deventer.

Meski Kartini telah meninggal sejak 1904, sekelompok orang yang tergabung dalam komite tersebut adalah orang-orang yang teguh memperjuangkan pemikiran Kartini.

BACA JUGA: Dorong Kreativitas, PKM Ilmu Komunikasi USM Kulik Podcast Bareng Siswa SMKN 1 Semarang

Tak terkecuali membangun Sekolah-Sekolah Perempuan di penjuru Indonesia seperti yang Kartini impikan.

Suwarni sendiri bekerja di SDN Sarirejo sejak tahun 1992. Saat itu, kata dia, beberapa orang dari Yayasan Kartini yang berasal dari Belanda masih sesekali berkunjung.

Namun seiring berjalannya waktu, kini sangat jarang perwakilan Yayasan Kartini yang singgah di sekolah tersebut.

“Kalau ada tamu dari Belanda, anak-anak memberikan penampilan. Benar-benar disiapkan. Sampai akhir 80-an masih aktif kunjungan ke sini,” tambahnya.

Perubahan nama Sekolah Kartini menjadi SDN Sarirejo

Lebih lanjut, Suwarni tak paham betul sejak kapan Sekolah Kartini berubah menjadi SDN Sarirejo. Yang pasti, Sarirejo merupakan nama kelurahan lokasi Sekolah Kartini berada.

Ia menduga, selepas kemerdekaan bangunan Sekolah Kartini dikelola oleh pemerintah serta peraturan bahwa seluruh sekolah agar diberi nama sesuai kelurahannya mulai berlaku. Sejak itulah Sekolah Kartini lantas berubah nama menjadi SDN Sarirejo.

“Sepertinya sudah diupayakan kembali ke Kartini, karena ini sekolah khusus nggak seperti sekolah negeri yang lain,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala SDN Sarirejo Alimuddin Aziz menambahkan, kini sekolahnya berstatus sebagai Sekolah Cagar Budaya. Artinya, gedung peninggalan jaman dulu tidak boleh diubah sama sekali.

BACA JUGA: Ilkom USM Gelar 9th Festival Komukino, Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya

Lantaran usia gedung yang sudah puluhan tahun, Aziz menyebut jika pihak sekolah seringkali menemui kendala pada perawatan dan keamanan gedung.

Meski begitu, hal tersebut tidak mengganggu jalannya pembelajaran siswa. Malahan, dapat menjadi nilai tambah SDN Sarirejo.

“Sekarang sekolah dituntut punya kearifan lokal masing-masing. Kalau SD lain kearifan lokal itu budaya setempat, kalau kami punya sosok Kartini,” tamdasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp