Gaya Hidup

Menjaga Eksistensi Batik Semarangan yang Kian Tergerus Printing dan Tekstil

×

Menjaga Eksistensi Batik Semarangan yang Kian Tergerus Printing dan Tekstil

Sebarkan artikel ini
batik figa
Siti Afifah, pemilik Batik Figa sekaligus generasi pertama Kampung Batik. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

“Mereka dari potongan atau motifnya bakalan lebih rapi karena pakai mesin, kalau nyanting pasti ada tumpah-tumpahannya. Kemudian dari sisi harga juga lebih terjangkau, batik canting lebih mahal,” kata Siti.

BACA JUGA: Peringati Hari Batik Nasional ke-15, Sejumlah Perajin Batik di Blora Membatik Sepanjang 15 Meter

Kendati demikian, Siti bersyukur sekolah-sekolah di Semarang mulai menerapkan kurikulum membatik dalam pelajaran sehari-hari: Selain itu, sebagian kecil sekolah juga sudah menerapkan batik jenis ini sebagai seragam.

Hanya saja, seragam batik di sekolahan masih menggunakan batik printing. Kedepannya, ia berharap masyarakat Semarang lebih mengenal dan mencintai batik Semarangan sebagai identitas dan budaya bersama.

“Semoga lebih sadar dengan batik Semarangan dan jangan terpaku membeli printing, memang dari harga lebih murah, tapi dari segi kualitas jelas berbeda,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazilabatik

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp