“Apa yang di sajikan ini juga menjadi media literasi yang baik kepada para pengunjung. Untuk memperkaya wawasan tentang kekayaan kuliner Nusantara,” jelasnya.
Dosen Fakultas Teknologi Informasi (FTI) UKSW Salatiga, Anthony Tumimomor mengungkapkan, gastronomi tidak hanya bicara soal makanan yang tersaji di atas meja.
Namun juga berkisah seputar aktivitas maupun proses kreatif yang terjadi di belakangnya, dan selama ini jamak terlewatkan atau jarang orang bahas. Karena ada asa, rasa dan cerita di setiap lahirnya makanan.
“Bahkan 80 persen lahirnya berbagai makanan atau minuman Nusantara berasal dari akulturasi budaya yang hidup di tengah- tengah masyarakat,” katanya.
BACA JUGA: Resik-Resik Kutho Jogo Tirto Sasar Sumber Air Abadi di Kalicacing Salatiga
Sebagai penanggungjawab, Anthony juga melayout dengan sedemikian rupa hingga setiap media pamer foto, arsip dan artefak di setiap sudut ruangan.
Selain itu dengan pemeran juga disajikan dengan “storytelling” yang detail. Namun mudah dipahami dan mampu mengajak pengunjung mengenang ke masa lalu.
Salah satunya melalui penggalan relief tentang peradaban “gastronomi” yang terpahat pada Candi Borobudur yang merupakan peninggalan abad VIII.
“Termasuk berbagai dokumentasi foto mengenai potret dapur rumah kediaman indis. Selain itu dapur bumiputera hingga dapur restoran tempo dulu dan sebagainya ” jelas Anthony. (*)
Editor: Farah Nazila





