“Kalau di Surabaya lebih ke sejarah pahlawan, seperti Tugu Pahlawan dan Museum Dr. Sutomo. Kalau Lawang Sewu ini fokus ke sejarah kereta api, jadi beda tapi sama-sama berkesan,” jelasnya.
Pesona Lawang Sewu di Kota Semarang
Lawang Sewu memang dikenal sebagai bekas Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Bangunan ini menampilkan arsitektur megah dengan ornamen kaca patri yang kaya makna, menggambarkan kemakmuran Jawa, kekuasaan kolonial Belanda, hingga simbol keberuntungan. Keunikan tersebut membuat wisatawan tak pernah bosan untuk berkunjung dan mengabadikan momen bersama keluarga.
Meski lekat dengan cerita mistis, hal tersebut tak menyurutkan minat pengunjung. Bahkan, pengelola kini menghadirkan inovasi wisata edukatif, seperti wahana imersif dan pemutaran film sejarah 3D yang memberi pengalaman belajar sejarah lebih modern dan menarik.
“Sekarang Lawang Sewu jauh lebih bagus. Gedungnya terawat, ada wisata imersif dan film 3D yang bisa bantu belajar sejarah,” tutur Rajwa.
BACA JUGA: Kunjungan Wisatawan Semarang Tembus 7,6 Juta, Wali Kota Optimistis Lampaui Target 2025
Daya tarik terbaru lainnya adalah dibukanya kembali lorong bawah tanah Lawang Sewu, jalur misterius yang menawarkan sensasi menyusuri sejarah kolonial Belanda dalam kondisi minim cahaya, sekaligus menjadi favorit wisatawan pencinta tantangan.
Berdasarkan data, tercatat sebanyak 431.754 wisatawan berkunjung ke Kota Semarang selama libur panjang Nataru. Dari jumlah tersebut, 67.071 pengunjung memilih Lawang Sewu sebagai destinasi utama.
Dengan perpaduan nilai sejarah, arsitektur ikonik, serta inovasi wisata modern, Lawang Sewu tetap menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang berkunjung ke Semarang, termasuk bagi wisatawan yang ingin mengulang kenangan masa kecil sekaligus memperkaya wawasan sejarah Indonesia. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi













