Pendidikan

Panti Asuhan Manarul Mabrur Semarang, 12 Tahun Rawat Anak-Anak Tak Diharapkan Orang Tua

×

Panti Asuhan Manarul Mabrur Semarang, 12 Tahun Rawat Anak-Anak Tak Diharapkan Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Panti Asuhan Manarul Mabrur
Inspiratif! Bergerak di bidang sosial dan kemanusian, Panti Asuhan Manarul Mabrur Semarang menolong semua masalah dari semua orang. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Beberapa anak terlihat berlarian dan bersenda gurau di sebuah serambi masjid. Beberapa lain sedang menjemur pakaian dan membantu pekerjaan rumah sebisa mereka. Itulah rutinitas sehari-hari yang tampak jika kita berkunjung ke Panti Asuhan Manarul Mabrur.

Selain itu, tak jarang suara tangisan bayi pun terdengar saut-menyaut di sebuah ruangan yang tampaknya masih baru. Panti Asuhan Manarul Mabrur sendiri bertempat di Kelurahan Pudakpayung, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Saat awak beritajateng.tv berkunjung ke Panti Asuhan Manarul Mabrur, Rois Bawono Hadi, pemilik panti asuhan terlihat sedang sibuk berbincang dengan tamunya.

Saat asik mengobrol, beberapa kali anak asuhnya yang berusia sekitar 5 tahun datang menganggu. Ingin bermain, katanya. Sang anak mulai terlihat nyaman duduk di pelukan Rois.

Dua belas tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 29 Januari 2012, perjalanan Manarul Mabrur bermula. Berangkat dari keprihatianannya terhadap karakter-karakter khas Nusantara yang mulai hilang, Rois merintis panti asuhan dari nol.

“Karakter khas Nusantara yang terkenal di seluruh dunia adalah cinta terhadap negara, saling menyayangi sesama manusia, bekerja keras, toleransi, dan jujur, sudah mulai hilang,” ujar Rois.

Rois dan teman-temannya pun berniat untuk membangkitkan kembali karakter tersebut.

Panti Asuhan Manarul Mabrur Sekolahkan Anak Asuhnya

Perjalanan Rois tidaklah mudah. Awalnya, ia memutuskan untuk menyekolahkan beberapa anak yang hidup di jalanan. Saat itu, ia memilih beberapa anak jalanan, salah satunya di daerah Tembalang, untuk kemudian ia sekolahkan.

Namun, siapa sangka niatnya tidak selalu berjalan dengan baik.

Setelah enam bulan ia sekolahkan, ternyata anak-anak tersebut lebih memilih untuk kembali ke jalanan. Kepada kami, Rois mengaku sulit mengendalikan jiwa-jiwa bebas anak jalanan.

Anak-anak tersebut setelah pulang sekolah malah memilih mengemis, masih dengan balutan seragam, dan tidak mau kembali ke panti asuhan.

BACA JUGA: Birokrasi Tak Kunjung Terbitkan Izin Operasional Panti Manarul Mabrur, Rois: Saya Tidak Peduli!

Mulai dari situ, Rois meyakinkan diri untuk membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan, tak terkecuali bayi-bayi yang lahir di luar pernikahan, ibu-ibu hamil bermasalah, anak dhuafa, serta janda-janda tanpa keluarga.

“Jadi di sini mulai bayi baru lahir sampai umur 50 tahun ada. Karena kita panti asuhan umum yang bergerak di bidang sosial dan kemanusian yang menolong semua masalah, semua usia, dan semua wilayah. Jadi kita tidak mengkhususkan anak-anak, kita tidak mengkhususkan bayi. Kita menolong semua orang karena yang bermasalah ya semua orang,” tutur Rois.

Sampai hari ini, masih ada 103 anak asuh yang menetap di Panti Asuhan Manarul Mabrur dengan 23 bayi di bawah 1 tahun. ementara itu, guna merawat bayi-bayi tersebut, terdapat 7 pengasuh yang ikhlas mengabdi tanpa beroleh upah. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp