Ekbis

Pegadaian Kanwil XI Catat Lonjakan Pembiayaan, Produk Emas Tumbuh 200 Persen

×

Pegadaian Kanwil XI Catat Lonjakan Pembiayaan, Produk Emas Tumbuh 200 Persen

Sebarkan artikel ini
Pegadaian Kanwil XI Catat Lonjakan Pembiayaan, Produk Emas Tumbuh 200 Persen
Salah satu nasabah Pegadaian menebus perhiasan emasnya di Pegadaian Mangunsarkoro Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kinerja PT Pegadaian Kantor Wilayah XI Semarang sepanjang tahun 2025 mencatat pertumbuhan impresif.

Total pembiayaan atau outstanding loan yang tersalurkan untuk masyarakat di Jawa Tengah dan DIY melonjak lebih dari 40 persen dari tahun sebelumnya.

Capaian ini memperkuat posisi Pegadaian sebagai salah satu lembaga keuangan yang tetap tumbuh di tengah dinamika ekonomi nasional.

Kepala Departemen Bisnis Pegadaian Kanwil XI Semarang, Tyas Ari Hidayat, menyebut peningkatan tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh pegawai sekaligus bukti meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Pegadaian.

BACA JUGA: Pegadaian Kanwil XI Semarang Gandeng Unnes Resmikan The Gade Creative Lounge

“Alhamdulillah, kinerja pegawai di tahun 2025 sangat menggembirakan. Secara nasional pertumbuhan outstanding loan mencapai 47,81 persen. Sementara untuk wilayah Kanwil XI Semarang tumbuh 43,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Tyas, Selasa, 20 Januari 2026.

Menurutnya, pertumbuhan pembiayaan Pegadaian sepanjang 2025 masih di dominasi oleh produk gadai dan emas. Produk gadai mencatat pertumbuhan sekitar 50 persen dari 2024 ke 2025. Namun, lonjakan paling signifikan justru datang dari produk berbasis emas.

“Produk emas tumbuh hingga sekitar 200 persen. Ini tidak lepas dari strategi Pegadaian setelah hadirnya layanan bullion dengan semangat mengemaskan Indonesia. Kami gencar melakukan literasi investasi emas, mulai dari tabungan emas, cicil emas, hingga gadai emas,” jelasnya.

Tyas menambahkan, pertumbuhan pembiayaan di wilayah Jawa Tengah dan DIY berlangsung relatif merata. Seluruh area kerja Pegadaian Kanwil XI Semarang mencatat kenaikan di atas 40 persen tanpa ada wilayah yang tertinggal.

“Hampir semua area memberikan kontribusi yang seimbang. Peningkatan terbesar tetap datang dari outstanding loan emas dan gadai. Tahun 2025 bisa saya katakan sebagai tahun dengan kinerja yang sangat solid,” katanya.

Di tengah tantangan ekonomi dan maraknya pemutusan hubungan kerja, Pegadaian memilih tidak meluncurkan produk baru.

Namun, perusahaan menghadirkan fitur khusus sebagai bentuk kepedulian sosial melalui program Gadai Peduli yang berlangsung pada September hingga November 2025.

“Gadai Peduli kami hadirkan dengan sewa modal 0 persen. Masyarakat hanya membayar biaya administrasi, dengan pinjaman maksimal Rp2,5 juta. Program ini kami tujukan untuk masyarakat yang terdampak PHK atau yang baru merintis usaha,” ungkap Tyas.

Untuk tahun 2026, Pegadaian masih akan mengevaluasi keberlanjutan program tersebut.

Gadai Peduli

Tyas menegaskan bahwa Gadai Peduli bukan produk baru, melainkan fitur tambahan dari skema gadai yang sudah ada.

Dari sisi minat investasi, Pegadaian mencatat masyarakat masih cenderung memilih cicil emas fisik daripada tabungan emas. Namun, keterbatasan stok emas fisik di pasaran membuat sebagian nasabah mulai beralih ke tabungan emas berbasis digital.

“Beberapa waktu lalu, stok emas fisik di toko, galeri, hingga Antam memang terbatas. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk mulai beralih ke tabungan emas atau transaksi digital,” ujarnya.

Meski demikian, Pegadaian mengakui masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan literasi digital, khususnya di Jawa Tengah dan DIY. Banyak masyarakat yang masih merasa lebih aman berinvestasi dengan memegang emas secara fisik.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kami di 2026. Literasi digital, terutama terkait investasi emas, harus terus meningkat agar masyarakat semakin percaya dan nyaman bertransaksi secara digital,” kata Tyas.

Outstanding Loan Emas

Berdasarkan data tahun 2025, nilai outstanding loan emas di wilayah Pegadaian Kanwil XI Semarang mencapai sekitar Rp1 triliun.

Jika di konversi ke gramasi, jumlah tersebut setara dengan sekitar 500 kilogram emas yang tersalurkan melalui produk penjualan dan pembiayaan emas, belum termasuk tabungan emas.

“Angka itu baru dari jual emas dan cicil emas. Tabungan emas belum kami hitung karena sifatnya konversi uang ke emas secara bertahap,” pungkas Tyas. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp