SEMARANG, beritajateng.tv – Pegiat tari Indonesia, Yoyok Bambang Priyambodo, menyesalkan kisruhnya lomba tari inisiasi Semarang Economy Creative (SEC) yang gagal terlaksana.
Ia menilai, polemik yang berlarut-larut antara panitia dan peserta akan mematikan regenerasi budaya yang tengah dibangun bersama. Apalagi, jika kedua belah pihak tak kunjung duduk bersama mencari solusi terbaik.
“Prihatin, saya sebagai orang Semarang merasa tercederai. Dengan adanya lomba yang gagal, korbannya adalah anak-anak generasi ke depan sebagai tongkat estafet keberlangsungan seni budaya,” kata Yoyok dalam podcast beritajateng.tv, 11 Januari 2025 lalu.
Yoyok mengatakan, peserta dan sanggar yang gagal tampil dalam suatu lomba tari tentu mengalami sejumlah kerugian; baik kerugian material maupun ketugian moril.
Bukan tidak mungkin, kata Yoyok, para peserta yang umumnya masih di bawah umur itu merasa begitu kecewa karena gagal tampil setelah mempersiapkan segalanya. Bahkan, mereka bisa trauma mengikuti lomba tari.
BACA JUGA: Podcast: Panitia Lomba Tari Piala Gubernur Harus Minta Maaf ke Peserta – Yoyok Bambang Priyambodo
“Secara moril, kasihan anak-anak, begitu tidak jadi dia kecewa; ini yang menjadi beban. Setelah seminggu bahkan tahunan mereka mau nari lagi, gak? Berapa anak yang tidak mau nari lagi karena kapok,” sambungnya.
Yoyok menuturkan, banyaknya penari yang menjadi peserta dalam suatu lomba tari seharusnya menjadi bukti bahwa mereka membutuhkan ruang untuk berekspresi.
Namun, pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota Semarang, masih alpa dan tidak bisa menyediakan wadah itu. Sehingga, para penari tergiur mengikuti lomba yang tidak jelas asal-usulnya.
“Kenapa pada ikut, karena gak ada ruang untuk pentas. Mereka butuhnya itu, publik ruang pentas. Apalagi lomba [dengan] piala, syukur-syukur pemerintah memberi penghargaan uang hadiah,” kata Yoyok.
Perlu peran pemerintah untuk selesaikan kasus lomba tari piala Gubernur Jateng
Satu bulan berlalu, polemik lomba tari yang gagal itu hingga kini masih terus memanas. Ketua panitia, panitia, hingga pihak luar saling tuduh-menuduh dan tidak mau disalahkan.
Bahkan, Ketua Panita Mei Sulistyoningsih dan panitia lomba tari Wasi Darsono kini terlibat perseteruan soal sabotase dan pencemaran nama baik.
Kendati demikian, Yoyok meminta agar panitia segera bertanggung jawab dengan menemui para korban. Soal sabotase dan lain sebagainya, ia melanjutkan, publik tak peduli dengan permasalahan internal di dalam kepanitiaan itu.
Menurutnya, yang terpenting ialah panitia wajib bertanggung jawab atas kegagalan lomba tari ini.
“Kami berharap sekali panitia memiliki itikad untuk menyelesaikan ini dengan baik-baik, mencari jalan terbaik bukan saling menyalahkan. Apa pun ya penyelenggara yang salah,” katanya.
Selain itu, Yoyok menilai jika pemerintah sudah semestinya turun tangan menyelesaikan kasus ini. Apalagi dinas terkait yang memberikan izin dan sempat berkomunikasi langsung dengan panitia.
“Dinas juga harus mendampingi mencari solusi terbaik agar secara finansial tercukupi, kekecewaan anak tadi terehabilitasi. Misalnya Dinas Kebudayaan yang membidangi kesenian ini harus hadir,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





