Jateng

Pengusaha Bus Pariwisata Keluhkan Kenaikan BBM Nonsubsidi, Biaya Perawatan Naik Tajam

×

Pengusaha Bus Pariwisata Keluhkan Kenaikan BBM Nonsubsidi, Biaya Perawatan Naik Tajam

Sebarkan artikel ini
Ramp Check Bus | Study Tour Sekolah | kebijakan zero pungutan
Ilustrasi bus. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv — Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha transportasi, termasuk pengelola bus pariwisata di Kabupaten Semarang.

Pengelola PO Citra Dewi, Handika Gusni Rahmulya, mengungkapkan bahwa tidak semua armada busnya menggunakan BBM nonsubsidi. Namun, beberapa unit tertentu, khususnya yang menggunakan mesin Mercedes-Benz Euro 4, memang wajib memakai bahan bakar jenis tersebut.

Meski demikian, dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya terasa pada biaya operasional langsung, tetapi juga merembet ke berbagai aspek lain. Salah satunya adalah kenaikan harga suku cadang dan biaya perawatan armada.

“Dampaknya tetap terasa. Harga suku cadang naik, biaya perawatan juga meningkat. Tapi harga sewa bus justru tidak naik, bahkan cenderung turun,” ujar Handika, Rabu, 22 April 2026.

BACA JUGA: BBM Nonsubsidi Naik Bikin Pemilik Fortuner Cemas, Organda Semarang Khawatir Pengguna Beralih Solar Subsidi

Ia menjelaskan, meskipun harga biosolar subsidi tidak mengalami kenaikan, beban operasional tetap membengkak akibat naiknya harga komponen dan jasa perawatan. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tertekan.

Selain itu, kendala teknis terkait barcode BBM subsidi juga sempat memperparah situasi. Beberapa armada terpaksa menggunakan BBM nonsubsidi karena barcode tidak bisa digunakan dan harus melalui proses registrasi ulang.

“Selama barcode belum aktif, kami terpaksa pakai BBM nonsubsidi. Waktu itu selisih harga sudah terasa, apalagi sekarang makin tinggi,” jelasnya.

Hingga kini, masih ada dua armada yang belum bisa mengakses BBM subsidi karena kendala barcode tersebut.

Handika juga menyoroti lonjakan harga suku cadang yang cukup signifikan. Ia mencontohkan harga ban yang sebelumnya sekitar Rp4,2 juta per unit kini naik menjadi lebih dari Rp5 juta. Kenaikan juga terjadi pada oli dan komponen lainnya.

BACA JUGA: Jamin Stok BBM, ESDM Buka Opsi Impor Minyak dari Rusia

Secara keseluruhan, biaya perawatan armada bus disebut meningkat hingga sekitar 30 persen dibanding sebelumnya. Dengan kondisi harga sewa yang stagnan, hal ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan usaha.

“Beban naik, tapi pemasukan tidak ikut naik. Itu yang jadi tantangan utama sekarang,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp