SEMARANG, beritajateng.tv – Presiden RI Prabowo Subianto menggagas proyek gentengisasi sebagai upaya memperindah wajah bangunan di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Prabowo menilai penggunaan seng masih cukup masif di berbagai daerah, padahal material tersebut dinilai kurang awet dan kurang ramah lingkungan.
Gagasan tersebut beroleh sambutan positif dari kalangan pengusaha. Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Tengah, Teddy Agung Tirtayadi, menilai program gentengisasi membuka peluang besar bagi wirausaha daerah, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Kalau kami melihat, potensi gentengisasi ini bagus karena menciptakan wirausahawan daerah, terutama UMKM atau skala rumahan. Mereka bisa memulai usaha pembuatan genteng dengan bahan yang sederhana, seperti tanah liat atau material sejenis,” ujar Teddy saat beritajateng.tv temui di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Rabu, 4 Februari 2026.
Menurut Teddy, produksi genteng berpotensi menjadi pasar yang terus berkembang seiring kebutuhan hunian di berbagai daerah.
Ia menilai, jika dijalankan secara konsisten, gentengisasi akan menciptakan ekosistem usaha baru yang berkelanjutan.
“Pembuatan genteng ini akan jadi market yang ke depan semakin besar, karena digunakan di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
Tanggapi Ide Gentengisasi Prabowo, HIPMI Pastikan Jateng Punya Basis Bahan Baku Genteng: Paling Banyak di Grobogan
Teddy menyebut Jawa Tengah memiliki potensi kuat sebagai basis produksi genteng karena ketersediaan bahan baku tanah liat di sejumlah daerah. Salah satunya berada di Kabupaten Grobogan.
“Kalau penghasil tanah liat itu banyak daerahnya. Bahkan di Grobogan ada industri tanah liat yang bisa diberdayakan untuk bergeser menjadi produksi genteng dengan skala yang lebih baik,” jelasnya.
Kendati begitu, ia menegaskan bahwa pengembangan industri genteng tidak bisa berjalan tanpa peningkatan kualitas produksi. Untuk itu, kata Teddy, HIPMI mendorong pelaku usaha di daerah agar adaptif terhadap teknologi.
“Kami harus masuk, kami harus belajar dari sisi teknologi. Adaptif dari figur atau pabrik-pabrik yang sudah ada di luar, supaya bisa menerapkan teknologi itu di sini dan kualitas hasil genteng lebih baik,” ujar Teddy.
Sudah Ada Ratusan Anggota HIPMI Jateng Bergerak di Sektor Bahan Bangunan
Teddy mengungkap, secara nasional HIPMI sudah memiliki anggota yang bergerak di industri genteng, termasuk sejumlah merek yang cukup terkenal. Di Jawa Tengah sendiri, tutur Teddy, ekosistem usaha bahan bangunan dinilai sudah terbentuk.
“Kalau kita bicara HIPMI se-Indonesia, sudah ada pengusaha genteng, termasuk beberapa brand yang terkenal. Harapannya itu juga bisa dibawa ke Jawa Tengah,” katanya.
Selain produsen, jaringan pedagang dan distributor bahan bangunan juga sudah cukup banyak di Jawa Tengah.
“Kalau pedagang genteng atau bahan bangunan, anggota kami juga ada. Di dunia bahan bangunan, termasuk genteng, di Jawa Tengah itu sudah sampai ratusan,” ungkap Teddy.
Ia menyebut, jaringan pengusaha tersebut bisa menjadi penggerak utama dalam mendukung penyebaran produk genteng hasil UMKM lokal.
Lebih jauh, menanggapi tantangan ekonomi global yang belum stabil, Teddy menilai program gentengisasi justru sejalan dengan upaya penguatan ekonomi daerah.
BACA JUGA: Miris! Ruang Kelas Rusak Parah, Siswa SDN 1 Plosorejo Blora Terpaksa Belajar di Balai Desa
“Kalau kita lihat program-program yang Pak Presiden buat, justru mendorong ekonomi daerah. Seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah berjalan, itu juga meningkatkan ekonomi daerah,” ujarnya.
Dalam hematnya, gentengisasi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku dari luar daerah maupun impor, sekaligus memperkuat pelaku usaha lokal.
“Bahan baku yang tadinya mungkin ambil dari pusat atau impor, akhirnya bisa memberdayakan pengusaha-pengusaha dan UMKM setempat. Dengan gentengisasi ini, UMKM lokal bisa belajar membuat genteng dengan kualitas yang baik,” jelas Teddy.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo juga telah menyampaikan bahwa program gentengisasi akan berjalan hingga ke Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia.
“Artinya market-nya sudah ada. Tinggal bagaimana UMKM kita bisa masuk dan mengambil peluang itu,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





