“Kalau dipindahkan langsung dari platform digital ke televisi, banyak elemen yang hilang. Karena audiens televisi memiliki ekspektasi yang berbeda. Cerita yang sebelumnya bisa berjalan dengan baik di YouTube, bisa jadi tidak cocok jika di potong dan di ubah untuk tayang di TV,” jelasnya.
Selain itu, Aulia juga menyoroti fenomena masyarakat Indonesia yang cenderung lebih tertarik dengan kisah yang mengandung beberapa unsur. Yakni kriminalitas, drama, atau bahkan elemen yang lebih sensasional seperti pornografi. Ia mencatat, hal ini berpengaruh pada keberhasilan film atau serial dalam meraih perhatian penonton.
“Penonton Indonesia lebih suka dengan kisah yang kriminal, dramatis, atau bahkan lucu. Itu adalah formula yang sering di olah oleh pembuat konten di media sosial dan bioskop,” kata Aulia.
Meski demikian, Aulia tetap menekankan bahwa KPID berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dalam dunia penyiaran.
BACA JUGA: Tinggalkan Istri Demi Selingkuhan, Ardhito Pramono Dapat Karma Ini
KPID Jawa Tengah terus berupaya untuk memastikan bahwa proses penyiaran berjalan dengan seimbang dan adil. Serta memperhatikan hak audiens yang beragam.
Menurut Aulia, peran KPID sangat vital dalam memastikan bahwa tayangan yang disiarkan tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia. (*)





