SEMARANG, beritajateng.tv – Musim panen raya kerang hijau yang biasanya nelayan Kampung Tambakrejo, Kota Semarang nantikan, justru datang tanpa hasil.
Puluhan rumpon budidaya kerang hijau milik warga Kampung Tambakrejo Semarang tidak menghasilkan panen tahun ini.
Padahal, di September mendatang biasanya merupakan musim panen raya bagi nelayan tradisional yang membudidaya kerang hijau melalui rumpon.
Kondisi tersebut membuat nelayan kehilangan salah satu sumber penghasilan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Para nelayan menduga perubahan kondisi perairan di sekitar rumpon berkaitan dengan pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak.
Salah satu nelayan Tambakrejo, Marzuki, mengatakan sekitar 30 rumpon milik warga yang berada di sekitar proyek mengalami gagal panen. Padahal, akhir Agustus hingga September biasanya menjadi awal musim panen kerang hijau.
“Tahun ini hitungannya gagal panen. biasanya akhir Agustus atau awal September sudah mulai panen kerang kecil-kecil. Tetapi pas teman-teman tengok tidak ada,” ujar Marzuki.
Menurut Marzuki, kondisi tersebut berbeda dengan rumpon yang berada lebih dekat dengan kawasan muara. Di lokasi tersebut, sebagian nelayan masih dapat memanen kerang hijau.
“Ada sekitar 30 rumpon, termasuk milik saya, yang gagal panen karena lokasinya dekat tanggul tol laut. Rumpon yang berada di muara masih bagus dan mereka bisa panen raya,” katanya.
Nelayan menduga perubahan arus menjadi salah satu faktor yang membuat kerang hijau sulit berkembang. Mereka melihat air di sekitar rumpon cenderung keruh setelah pembangunan berlangsung.
“Gelombangnya cenderung memantul. Akhirnya air di sekitar tanggul laut terus keruh. Arusnya juga tidak seperti sebelumnya. Embrio kerang hijau akhirnya tidak bisa menempel dan berkembang,” jelas Marzuki.
Budidaya Jadi Penopang Nelayan
Bagi nelayan Tambakrejo, kerang hijau bukan sekadar komoditas tambahan. Budidaya tersebut menjadi salah satu cara warga mempertahankan penghasilan ketika ruang tangkap nelayan tradisional makin terbatas.
Marzuki mengatakan warga mulai mengembangkan budidaya kerang hijau menggunakan rumpon sejak sekitar 2016.
Metode tersebut menjadi alternatif karena nelayan tradisional harus menghadapi persaingan dengan kapal dan peralatan tangkap yang lebih modern.
Dalam kondisi normal, musim panen kerang hijau di kawasan Tambakrejo berlangsung sekitar September hingga Januari.
Hasil panen setiap rumpon bisa mencapai puluhan kilogram hingga sekitar satu kuintal dalam sekali pengambilan, tergantung kondisi perairan dan pertumbuhan kerang.
Namun tahun ini, sebagian rumpon justru tidak menghasilkan alias gagal panen. Nelayan pun harus mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di perairan Tambaklorok, setidaknya terdapat sekitar 50 rumpon yang digunakan warga untuk budidaya kerang hijau.
Nelayan berharap pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir tidak menghilangkan ruang ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada laut.
“Kami tidak menolak pembangunan. Tetapi kehidupan nelayan juga harus diperhatikan. Jangan sampai pembangunan membuat kami kehilangan sumber penghasilan,” kata Marzuki.
Akademisi: Arus Air Penting bagi Kerang Hijau
Akademisi sekaligus pemerhati isu pesisir dari Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Mila Karmilah, menyatakan dirinya turut mengamati dampak proyek tanggul laut terhadap masyarakat pesisir.
Kesulitan mencari kerang hijau juga nelayan di pesisir Bedono, Kabupaten Demak rasakan, karena kawasan perairannya turut tertutup proyek tanggul laut.
“Untuk membuat rumpon kerang hijau, air tidak boleh tertutup, tetapi harus bergerak antara air payau dan air laut,” ungkap Milla.
Menurut Mila, budidaya kerang hijau di perairan terbuka membutuhkan kondisi air yang mendukung. Sirkulasi air menjadi salah satu faktor penting agar organisme tersebut dapat menempel dan berkembang pada rumpon.
Ia menjelaskan, pergerakan air membantu menjaga kondisi perairan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan kerang. Karena itu, perubahan pola arus di kawasan pesisir perlu dikaji ketika pembangunan infrastruktur berlangsung.
Mila menilai persoalan tersebut tidak semestinya dilihat hanya dari sisi pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memperhitungkan keberlanjutan ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada ekosistem pesisir.
“Kalau pembangunan tidak mempertimbangkan masyarakat pesisir, yang hilang bukan hanya mata pencaharian, tetapi juga ruang hidup,” katanya.
Ia menegaskan tidak menolak pembangunan infrastruktur seperti tanggul laut maupun rencana pengembangan kawasan pesisir. Namun, menurutnya, proses pembangunan harus melibatkan masyarakat dan mempertimbangkan dampak ekologis secara menyeluruh.
Pengalaman di sejumlah kawasan pesisir, kata Mila, menunjukkan perubahan lingkungan dapat memberikan dampak panjang terhadap kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan Desa Bedono, Kabupaten Demak. Menurutnya, perubahan kawasan pesisir telah membuat sejumlah dukuh mengalami kehilangan wilayah permukiman.
“Dulu di Desa Bedono, Demak itu ada tujuh dukuh, sekarang tinggal tiga dukuh karena empat dukuhnya sudah hilang. Kenapa hilang? Karena ada perubahan arus akibat reklamasi oleh pelabuhan sehingga menghilangkan kawasan-kawasan itu,” tandasnya. (*)





