Jateng

Ratusan Kilometer Irigasi Sekunder di Kabupaten Semarang Rusak, Nyaris Merata di 19 Kecamatan

×

Ratusan Kilometer Irigasi Sekunder di Kabupaten Semarang Rusak, Nyaris Merata di 19 Kecamatan

Sebarkan artikel ini
irigasi Sekunder
Mukhlisno, Ketua Gapoktan Al-Amin, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang terus mendorong target luas tambah tanam (LTT) guna mendukung ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, pertanian di daerah ini juga masih menghadapi persoalan, berupa kerusakan infrastruktur irigasi sekunder maupun tersier yang butuh perhatian.

Pasalnya, kerusakan tersebut hampir merata di 19 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Semarang, terutama di kawasan pertanian pangan.

Terlebih, faktor utama untuk menopang produktivitas pertanian ialah jaminan ketercukupan air melalui infrastruktur irigasi yang baik serta memadai.

Berdasar data Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang, lebih dari 200 kilometer irigasi sekunder dalam kondisi rusak.

BACA JUGA: Truk Muatan Kayu Terguling Saat Hendak Masuk Jembatan Timbang, Ini Kronologinya

Belum lagi kerusakan saluran irigasi tersier yang jumlahnya perkiraan jauh lebih banyak daripada dengan panjang infrastruktur saluran irigasi sekunder.

“Sehingga, ini juga perlu mendapat perhatian,” kata kepala dinas terkait, Moh. Edy Sukarno, di Ungaran, Kamis, 7 Agustus 2025.

Edy juga menyampaikan, masalah itu belum termasuk saluran tersier yang memang sampai saat ini belum terbangun di sejumlah wilayah Kabupaten Semarang.

Kerusakan irigasi Sekunder di Kabupaten Semarang

Sementara itu, kerusakan irigasi yang dimaksud mulai dari kategori rusak ringan, sedang, dan berat. Dengan kondisi tersebut, untuk melakukan perbaikan jelas butuh anggaran yang besar.

“Alhamdulillah, program Presiden Prabowo untuk irigasi pendukung pertanian ada kerja sama antara Kementerian PUPR dan Kementerian Pertanian,” jelasnya.

Harapannya, tutur Edy, pembangunan infrastruktur pertanian sekarang bakalan menjadi lebih linier.

“Ketika ada waduk, tidak hanya saluran primernya yang dibangun, tetapi saluran irigasi sekundernya juga dibangun nyambung dengan irigasi tersiernya,” ucapnya.

Sehingga, kata Edy, sistem irigasinya terkoneksi guna menopang kebutuhan pertanian setempat.

“Kalau selama ini daerah irigasinya dibangun di wilayah A, sementara saluran tersiernya di wilayah B, sehingga tidak terkoneksi satu sama lain,” jelasnya.

BACA JUGA: Dukung Ketahanan Pangan, Polres Semarang Gelar Penananam Jagung di Lahan Pesantren

Terkait target LTT pertanian pangan di Kabupaten Semarang dalam mendukung ketahanan pangan nasional pada tahun 2025 ini mencapai 41 ribu hektare.

Terakhir target terebut Pemerintah Pusat tambah lagi dengan adanya bantuan alat mesin pertanian kepada gapoktan maupun poktan. Maka, dari target semula 41 ribu hektare, kini bertambah lagi 1.000 hektare.

“Sehingga total LTT di Kabupaten Semarang tahun ini mencapai 42 ribu hektare,” tandas Edy.

Mukhlisno, Ketua Gapoktan Al-Amin, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, mengamini kondisi sejumlah saluran irigasi tersier yang kondisinya butuh pembenahan.

Menurutnya, lahan pertanian di wilayah Desa Gogik relatif tidak menghadapi kendala pengairan, karena memang dekat dengan sumber mata air yang melimpah.

Namun, apabila tak ada pembenahan kerusakan irigasi tersier, maka bisa mengakibatkan pembagian air kepada petani tidak merata. “Terlebih pada saat musim kemarau, karena debit air juga menyusut,” jelasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp