1. Zona Semarangan Tempo Doeloe: Menyajikan suasana khas Semarang lewat visual penjual jamu, penjual lumpia, pertunjukan Tari Denok Semarangan, dan alunan musik campursari.
2. Zona Gebyuran: Mengangkat tradisi perang air sebagai simbol penyucian diri, di iringi musik hadroh dan interaksi langsung dengan pelari.
3. Zona Pecinan Semarang: Kental dengan nuansa Tionghoa melalui atraksi barongsai, hiasan lampion, dan ornamen khas Mooncake Festival.
4. Zona Semarangan Legend: Menghadirkan atmosfer vintage dengan menghadirkan karakter lintas sejarah dan musik klasik kota.
5. Zona Gambang Semarang: Menampilkan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa lewat pertunjukan tari serta interaksi seni yang hangat.
Atmosfer multikultural makin terasa dengan adanya instalasi pesan penyemangat dalam tiga bahasa (Jawa, Mandarin, dan Belanda), permainan tradisional engklek, serta kehadiran ikon Warak Ngendog yang melambangkan akulturasi budaya Jawa, Tionghoa, dan Arab.
Gairahkan Sport Tourism dan Ekonomi Kreatif
Penyelenggaraan SHNR 2026 membuktikan bahwa kawasan warisan budaya dapat berjalan secara fleksibel sebagai ruang publik yang hidup.
Melalui event ini, peserta tidak hanya di ajak melintasi arsitektur bersejarah, tetapi juga berinteraksi langsung dengan identitas budaya Semarang.
Keseruan acara di tutup di area race village Metro Point Kota Lama. Pusat kegiatan ini memiliki panggung hiburan yang makin meriah oleh penampilan musik dari Mentik Wangi serta Iwa & Friends. (*)





