BACA JUGA: Gelar Social on Symphonesia 2025, Mahasiswa Undip Sajikan Tarian dan Kuliner Daerah Bernuansa Milenial
Meski tidak mengaitkan langsung dengan hal mistis, ia mengakui bahwa kejadian semacam itu menjadi pengingat bahwa menghadirkan tokoh-tokoh spiritual memerlukan sikap hati-hati dan penghormatan.
Melalui “Samar” Anter tidak hanya menghadirkan tari kontemporer, tetapi juga mengajak penonton membaca ulang filosofi Jawa melalui simbol, topeng, dan perpaduan gerak.
Dualitas Semar, pelindung sekaligus pemberi peringatan, menjadi inti dari karya ini, memperlihatkan bahwa budaya Jawa tidak hanya untuk dipentaskan, tetapi harus terus dipahami, dihormati, dan dijaga. (*)
Editor: Farah Nazila





