SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua RT 4 RW 5 setempat di Jalan Halmahera Raya, Fransiskus Muryoko, mengungkap kondisi lingkungan yang sepi pada pagi hari menjadi salah satu faktor terjadinya aksi begal beserta pembacokan di Jalan Halmahera Raya, Kelurahan Karang Tempel, Kecamatan Semarang Timur.
Menurutnya, situasi di lokasi kejadian memang cenderung lengang, terutama saat hari libur. Hal itu dugaan kuat pelaku manfaatkan untuk melancarkan aksinya.
“Ya, kondisinya memang di sini terutama kalau hari libur itu memang sangat sepi ya. Jadi, kalau aktivitas belum ada di jalan sepi, itu kejadiannya kalau dia dari CCTV-nya kemarin kan seperti itu,” ujar Fransiskus Muryoko saat beritajateng.tv temui pada Senin, 6 April 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan rekaman CCTV, kejadian bermula saat korban didatangi pelaku yang berboncengan sepeda motor. Salah satu pelaku kemudian merampas barang milik korban.
“Jadi, ada yang jemput korban kemudian diambilkan oleh motor bergoncengan dua orang. Kemudian satu itu bisa merampas handphone atau tas ya,” jelasnya.
BACA JUGA: Begal Mengintai Dini Hari, Perempuan Sukoharjo Nyaris Kehilangan Nyawa
Saat kejadian berlangsung, seorang perempuan keluar dari rumah untuk membantu temannya yang menjadi korban. Namun nahas, ia justru menjadi sasaran kekerasan dan pelaku bacok.
“Si korban ini keluar dari rumahnya membantu temannya gitu, terus malah di bacok,” tambahnya.
Fransiskus menyebut, peristiwa ini merupakan kejadian pertama di lingkungannya. Ia mengaku tidak menyangka aksi kekerasan seperti itu bisa terjadi di wilayah tersebut.
“Ya baru tahu. Baru pertama ini,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya kejadian pencurian ringan di sekitar wilayah, meski bukan dalam skala besar. “Kalau pun durian saya belum, Pak,” ujarnya.
Atas kejadian ini, warga berharap aparat kepolisian dapat meningkatkan patroli di kawasan tersebut guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Iya, selalu patroli supaya keluarganya lebih nyaman ya, lebih aman,” ucapnya.
Selain itu, ia juga mengimbau warga untuk lebih waspada dan berhati-hati dalam beraktivitas, terutama pada waktu-waktu sepi.
“Ya itu, saya ya berusaha untuk waspada saja, hati-hati,” katanya.
Terkait keamanan lingkungan, Fransiskus menyebut sistem ronda malam sebenarnya sudah berjalan, meski terbatas pada waktu tertentu.
“Ronda jaga malam kalau di sini ada di pos kamling itu kan, cuman sampai yang dekat puskesmas itu ada. Cuman malam saja,” pungkasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun menyebutkan korban harus menjalani 17 jahitan akibat luka yang dideritanya. Selain itu, korban juga mengalami kerugian materi sekitar Rp100 ribu. Saat ini, kondisi korban masih mengalami shock.
Salah satu pedagang yang berasa di sekitar lokasi, Ujang (30), mengaku tidak melihat langsung kejadian tersebut. Ia baru tiba saat situasi sudah ramai dan awalnya mengira terjadi kecelakaan.
“Saya baru datang jualan, tahu-tahu sudah ramai. Kirain tabrakan, ternyata katanya ada yang dibegal,” ujarnya saat ditemui Senin, 6 April 2026.
BACA JUGA: Begal Beraksi Pagi Hari di Halmahera Raya Semarang, Korban Dapat 17 Jahitan di Wajah
Saat itu, korban sudah dalam kondisi tergeletak sambil memegangi kepala. “Korban sempat tergeletak, pegangin kepala. Banyak orang sudah berkerumun,” katanya.
Korban kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat menggunakan sepeda motor. “Diantar pakai motor, sepertinya ke puskesmas dekat sini,” imbuhnya.
Polisi telah melakukan olah TKP, memeriksa saksi, serta menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi. Hingga kini, dua pelaku masih dalam pengejaran. (*)
Editor: Farah Nazila





