SEMARANG, beritajateng.tv – Film bioskop yang tayang akhir tahun 2024 berjudul 2nd Miracle in Cell No.7 kini penuh dengan adegan yang bakal bikin kamu ngakak.
Hal ini terlihat dari adegan pertama sebagai pembuka yaitu sebuah perayaan ulang tahun bersama para narapidana. Para pemain film tersebut sukses menghadirkan tawa sehingga penonton auto bakal terhibur.
Bagi kamu yang belum menyaksikannya di bioskop, bisa simak terlebih dahulu informasi seputar review dari film tersebut.
Review Film 2nd Miracle in Cell No.7
Dalam 10 menit pertama, film ini membawa penonton menyelami berbagai lapisan emosi. Melalui kilas balik, ditampilkan hari-hari terakhir Dodo di balik jeruji besi, yang menggambarkan perjuangan seorang penyandang disabilitas mental dalam menghadapi ketidakadilan.
BACA JUGA: Daftar 5 Film Bioskop Bertemakan Horor yang Siap Tayang Awal Tahun, Catat Buruan!
Kehadiran humor khas para penghuni sel nomor 7 juga mengingatkan bahwa di tengah pahitnya hidup, selalu ada ruang untuk tertawa.
Daya tarik utama film ini terletak pada penggunaan humornya yang relevan. Tidak seperti komedi slapstick, humor dalam film 2nd Miracle in Cell No. 7 terasa lebih membumi dan realistis.
Celetukan narapidana yang mencoba menerima nasib mereka atau guyonan ringan di tengah kesulitan mencerminkan keseharian masyarakat Indonesia.
Humor ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan menjadi alat bagi para karakter untuk bertahan, seolah mengirimkan pesan bahwa tawa adalah senjata terakhir melawan keputusasaan.
Salah satu adegan paling emosional terjadi ketika Hendro (Denny Sumargo), mengajak Kartika untuk mengunjungi rumah lamanya yang kini telah digusur.
Rel kereta yang kini berdiri di tempat rumah tersebut menjadi simbol perjalanan hidup Dodo dan Kartika, mengingatkan mereka bahwa masa lalu hanya bisa terkenang.
BACA JUGA: Film Elang Siap Menghadirkan Sederet Aktor Ternama, Berikut Daftar Pemainnya
Kartika mulai mengingat kembali kenangan bersama ayahnya, sebelum kehidupan mereka berubah drastis.
Adegan ini semakin kuat dengan sinematografi yang mengutamakan kesederhanaan. Seperti barang-barang lama, cahaya redup, dan ekspresi kehilangan yang tak memerlukan penjelasan panjang lewat dialog.
Kedalaman emosional semakin terasa ketika Kartika menemukan buku harian Juwita, yang diperankan oleh Marsha Timothy, ibu yang telah meninggal.
Buku harian ini membawa penonton untuk menyelami kehidupan rumah tangga Dodo, mulai dari perjalanan pernikahannya hingga perannya sebagai ayah tunggal setelah istrinya meninggal saat melahirkan Kartika.
Momen ini menyoroti perjuangan seorang ayah yang terbatas, namun tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. (*)





