SEMARANG, beritajateng.tv – Tradisi sema’an Al-Qur’an di Masjid Agung Kauman Semarang bukan sekadar kegiatan membaca kitab suci selama bulan Ramadan. Bagi sebagian jamaah, kegiatan ini justru menjadi ruang hijrah, tempat memperbaiki diri sekaligus memperdalam pemahaman agama.
Setiap siang selepas salat Zuhur hingga menjelang Ashar, ratusan jamaah memadati area masjid yang berada di kawasan Jalan Aloon-Aloon Barat, Kecamatan Semarang Tengah tersebut. Lantunan ayat Al-Qur’an terdengar bergema, kiai yang memimpin juga memberikan penjelasan tafsir dan pembenahan bacaan.
Salah satu jamaah, Agung Wibowo, mengaku merasakan perubahan besar dalam hidupnya sejak rutin mengikuti sema’an selama Ramadan beberapa tahun terakhir. Ia menyebut bahwa ia dahulu belum terlalu mendalami agama, namun perlahan mulai berubah setelah aktif mengikuti pengajian.
“Manfaatnya besar sekali. Dari yang tidak tahu jadi tahu, menambah keimanan dan ketakwaan. Di sini juga bisa berkumpul dengan saudara-saudara muslim,” ujar warga Kauman tersebut.
BACA JUGA: 7 Tema Materi Ceramah Ramadhan 2026, Cocok untuk Kultum dan Kuliah Subuh
Menurutnya, penjelasan tafsir yang disampaikan kiai membuat isi Al-Qur’an lebih mudah terpahami. Ia pun merasa kagum karena ayat-ayat yang sebelumnya hanya dibaca, kini bisa dimengerti maknanya.
Agung menilai Ramadan memang menjadi momentum tepat untuk memperbaiki diri. Suasana masjid yang penuh keberkahan juga memberikan dorongan spiritual yang kuat bagi jamaah.
Sementara itu, Sekretaris Takmir Masjid Agung Kauman Semarang, Muhaimin, menjelaskan tradisi sema’an telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari kegiatan Ramadan di masjid tersebut.
Ia mengakui jumlah jamaah saat ini tidak sebanyak masa lalu yang bisa mencapai ribuan orang. Namun menurutnya, kualitas semangat peserta justru tidak berkurang. Bahkan ada jamaah yang rela meninggalkan pekerjaan selama Ramadan demi fokus mengikuti pengajian.
“Mereka punya prinsip bekerja 11 bulan, satu bulan khusus untuk ngaji di Masjid Kauman. Itu luar biasa,” kata Muhaimin.
Perubahan zaman juga membawa dampak pada pola kehadiran jamaah. Kini sema’an disiarkan melalui YouTube sehingga masyarakat bisa mengikuti dari rumah. Meski demikian, kehadiran langsung di masjid tetap memiliki nilai spiritual tersendiri.
Pada masa lalu, bahkan ada jamaah dari luar daerah yang sengaja datang dan menginap di penginapan sekitar masjid demi mengikuti sema’an selama satu bulan penuh. Tradisi itu kini mulai berkurang karena akses digital semakin mudah.
BACA JUGA: Imlek dan Ramadhan 2026 Berdekatan, Wali Kota Semarang Ajak Warga Perkuat Toleransi dan Harmoni
Muhaimin menegaskan pihak takmir tetap berkomitmen menjaga tradisi tersebut sekaligus menyiapkan kader generasi penerus. Dokumentasi ceramah para kiai disimpan sebagai referensi pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Yang penting kegiatan ini terus berjalan. Harus ada kader yang melanjutkan, supaya masyarakat tetap dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya.
Tradisi sema’an Al-Qur’an di Masjid Agung Kauman Semarang pun menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga perjalanan spiritual menuju perubahan diri yang lebih baik. (*)
Editor: Farah Nazila





