Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, Sih Rianung, mengatakan aplikasi Sigap Hidran lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Tidak jarang petugas harus menghabiskan waktu mencari sumber air saat kebakaran terjadi.
“Hambatan yang sering kami hadapi adalah mencari sumber air terdekat. Dengan aplikasi ini, petugas bisa langsung mengetahui lokasi hidran maupun sumber air lain sehingga proses pemadaman menjadi lebih cepat,” ujarnya.
Dalam aplikasi Sigap Hidran, telah terdata titik hidran sebanyak 295 yang tersebar di berbagai wilayah Kota Semarang.
Namun, dari jumlah tersebut baru 135 hidran yang tercatat aktif dan siap pakai, sehingga hidran yang belum aktif masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot maupun Damkar Kota Semarang.
Berdasarkan data Damkar, kasus kebakaran di Kota Semarang masih cukup tinggi. Sepanjang Januari sampai Juli 2026 ini tercatat sudah ada 148 kasus kebakaran telah ditangani oleh petugas Damkar Kota Semarang.
“Kota Semarang memiliki wilayah yang cukup luas sehingga penanganan kebakaran tidak bisa berjalan sendiri. Perlu kolaborasi semua pihak, termasuk masyarakat, agar penanganan kebakaran semakin cepat dan efektif,” pungkas Rianung. (*)





