“Semarang adalah kota yang sangat autentik dengan karakter yang kuat. Atmosfer kota dan keramahan lingkungan kerjanya sangat mendukung proses kreatif kami selama produksi,” ungkap Ariyo.
Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis sendiri menjalani proses syuting selama 24 hari di berbagai sudut Kota Semarang.
Produksi film tersebut juga melibatkan sineas lokal, kru daerah, hingga pemeran pendukung dari Jawa Tengah sehingga memberikan sentuhan budaya yang lebih kuat.
Pemkot Semarang optimistis penguatan identitas sebagai Kota Sinema akan membuka peluang lebih besar bagi generasi muda untuk berkiprah di industri kreatif.
Selain itu, semakin banyaknya film yang di produksi di Semarang harapannya mampu memperluas promosi pariwisata kota melalui layar lebar. (*)





