Berdasarkan data yang ia peroleh, gelombang Rossby yang sempat melanda Pulau Bali tidak berada di wilayah Jawa Tengah untuk tujuh hari ke depan.
Namun, kata Rany, fenomena ini tetap perlu diperhatikan karena pergerakan gelombang atmosfer bisa bersifat mingguan atau bahkan bulanan. Rany pun menjelaskan setiap gelombang membawa pengaruh berbeda, tergantung kondisi wilayah yang dilintasi.
Baik itu gelombang Rossby, gelombang Kelvin, maupun fenomena MJO, kata Rany, termasuk jenis gelombang atmosfer yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan saat aktif.
Ia menerangkan, ketika gelombang atmosfer berada di wilayah tertentu, hujan bisa muncul tiba-tiba dengan intensitas meningkat.
“Saat mereka [gelombang] lewat, memang ada potensi terjadi hujan. Mungkin sebelumnya tidak hujan, tiba-tiba intensitasnya bisa meningkat atau yang tadinya tidak hujan jadi hujan,” ujar Rany.
Rany menambahkan, intensitas hujan akibat gelombang atmosfer tidak seragam di setiap daerah. Topografi dan kondisi lokal sangat menentukan dampak hujan yang terjadi.
Misalnya, di Kota Semarang dan beberapa wilayah Pantura, hujan lebat tidak selalu merata meski gelombang Rossby melintas.
Lebih lanjut, Rany menegaskan, baik gelombang Rossby maupun MJO memiliki kemampuan yang sama dalam memicu pertumbuhan awan hujan. Namun, seberapa lebat hujan yang turun sangat bergantung kondisi geografis dan lokal wilayah tersebut.
“Sama-sama hujan, fokusnya di gelombang atmosfer itu mempengaruhi pertumbuhan awan hujan. Tapi yang memengaruhi hujannya bisa sangat lebat atau tidak, tergantung wilayahnya,” pungkas Rany.
BNPB RI sebut Rossby geser ke arah Pulau Jawa
Kabar sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut curah hujan tinggi akibat gelombang ekuatorial Rossby yang membuat Bali kebanjiran saat ini bergeser ke Pulau Jawa. Maka dari itu perlu penyiapan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah preventif.





