Meski jadwal resmi belum rilis, pihaknya memastikan rencana tersebut masih sesuai target awal, yaitu November 2025. Namun, Masrofi belum bisa memastikan soal harga tiket.
“Waduh, harganya saya belum tahu, kan belum buka. Kalau sudah buka baru kelihatan harganya berapa untuk penerbangan ke Singapura. Tapi saya pikir, kalau penerbangan langsung pasti lebih murah daripada transit. Ke Malaysia saja kemarin hanya sekitar Rp1 juta, kurang lebih sama dengan penerbangan ke Jakarta,” kata dia.
Lebih jauh, ia berharap penerbangan internasional ini dapat menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi. Masrofi optimistis, semakin banyak pilihan rute semakin besar peluang mendatangkan wisatawan dan pelaku usaha dari luar negeri.
“Makanya kita coba agar Bandara Ahmad Yani ini mulai menggeliat lagi sebagai bandara internasional, dan akan ada penerbangan-penerbangan internasional selanjutnya,” ucap Masrofi.
Pemprov Jateng kaji penerbangan ke Tiongkok, sebut Jateng saudara kembar Fujian
Selain Singapura, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah juga membuka kemungkinan pengembangan rute Semarang ke Tiongkok. Salah satu wilayah yang Pemprov kaji adalah Fujian, mengingat provinsi tersebut merupakan sister province dari Jawa Tengah.
“Ini [penerbangan ke Tiongkok] kan masih kami kaji juga, katanya ada rencana ke Fujian, karena kebetulan kita punya sister province, Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Fujian. Kita sudah lama bekerja sama dengan Fujian,” jelasnya.
Menurutnya, rencana pembukaan rute penerbangan tersebut tidak bisa instan. Perlu kajian mendalam dari sisi operasional, termasuk analisis potensi penumpang dan skema bisnis maskapai.
Ia optimistis kehadiran rute internasional baru dapat mendongkrak konektivitas Semarang sebagai salah satu hub penerbangan internasional di wilayah tengah Indonesia.
“Ya, semoga saja ada penerbangan langsung dari China ke Semarang. Tapi ini perlu kajian lebih lanjut, karena berkaitan dengan operasional penerbangan, hitungan rugi, untung, dan sebagainya,” pungkas dia.





