Jateng

Siswa MTs Negeri Semarang Sulap Sisa MBG Jadi Pakan Magot

×

Siswa MTs Negeri Semarang Sulap Sisa MBG Jadi Pakan Magot

Sebarkan artikel ini
sisa mbg semarang
Siswi MTs Negeri Semarang, Kabupaten Semarang saat mempraktikkan pemberian pakan magot. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Siswa MTs Negeri Semarang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, memanfaatkan sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pakan magot untuk mengurangi sampah organik di lingkungan sekolah.

Langkah tersebut terlaksana setelah sekolah menghasilkan sekitar dua kuintal sampah organik setiap hari dari sisa menu MBG yang tidak habis para siswa konsumsi.

Sebelumnya, seluruh sisa makanan tersebut hanya menjadi sampah. Namun kini sebagian pihaknya olah menjadi pakan magot yang kemudian mereka manfaatkan untuk budidaya ikan air tawar.

Kepala MTs Negeri Semarang, Muh Muslimin, mengatakan produksi sampah organik di sekolahnya terus meningkat seiring pelaksanaan program MBG.

“Dari sekitar dua kuintal sampah organik yang terhasilkan per hari, saat ini baru sekitar 50 kilogram yang sudah di olah menjadi pakan magot,” ujarnya baru-baru ini.

BACA JUGA: Dapur MBG di Blora Buang Limbah Sembarangan, Cairan Mengalir ke Sawah Bikin Tanaman Padi Kering

Menurut Muslimin, meski jumlahnya belum maksimal, program tersebut menjadi langkah awal dalam mengurangi limbah organik. Sekaligus memberikan nilai manfaat baru bagi lingkungan sekolah.

Ia berharap seluruh sampah organik yang terhasilkan nantinya bisa terolah menjadi pakan magot sehingga hasil panennya tidak hanya untuk kebutuhan internal sekolah.

“Ke depan, budidaya perikanan di luar sekolah juga bisa memanfaatkan hasil magot ini,” tegasnya.

Salah satu siswi MTs Negeri Semarang, Azana Fairuzsyifa (14), menjelaskan proses pengolahan sisa MBG menjadi pakan magot membutuhkan beberapa tahapan.

Sisa makanan seperti sayur dan buah terlebih dahulu dipilah, kemudian difermentasi selama 168 jam atau sekitar satu minggu sebelum diberikan kepada magot.

“Jadi butuh waktu satu minggu sebelum hasil fermentasi bisa untuk pakan magot,” jelasnya.

Azana mengaku awalnya merasa jijik melihat magot dan proses pengolahannya. Namun seiring waktu, ia mulai terbiasa dan memahami manfaat budidaya tersebut.

BACA JUGA: Dukung Ekonomi Sirkular, APPMBGI Olah Limbah Dapur MBG Jadi Bioavtur dan Kompos

Menurutnya, magot membutuhkan waktu sekitar 48 hari hingga siap dipanen. Selama masa pemeliharaan, magot mendapat pakan dua kali sehari.

“Setelah 48 hari, magot sudah bisa dipanen dan digunakan untuk pakan ikan di kolam sekolah,” ungkapnya.

Program ini tidak hanya membantu mengurangi sampah organik dari MBG, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa mengenai pengelolaan limbah dan budidaya berkelanjutan. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp