SEMARANG, beritajateng.tv – Tahun ajaran 2025/2026 menjadi kali pertama bagi SMA Negeri 3 Semarang menerapkan Kurikulum Nasional setelah Kurikulum Merdeka pada kegiatan belajar mengajar (KBM)-nya.
Oleh sebab itu, ada sedikit perbedaan pada pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMA Negeri 3 Semarang yang dimulai pada Senin, 14 Juli 2025.
“Tahun ini kan tahun pertama kita menggunakan Kurikulum Nasional setelah Kurikulum Merdeka selesai. Pesan dari Pak Menteri memang MPLS hari pertama memang desainnya agak berbeda,” ungkap Sekretaris MPLS SMAN 3 Semarang Nur Subagio.
Pada tahun sebelumnya, Subagio menyebut siswa yang tergabung dalam OSIS lebih berperan dalam mendampingi murid baru selama MPLS berlangsung.
BACA JUGA: Kapan Hari Pertama Masuk Sekolah TA 2025/2026 di Jateng? Ini Jadwal MPLS dan Awal KBM SD, SMP, SMA
Berbeda dengan tahun ini, Subagio menuturkan peran guru selama MPLS lebih maksimal untuk mendampingi maupun memberikan pengarahan pada murid baru. Tahun ini, SMAN 3 Semarang menerima 432 murid baru yang terbagi menjadi 12 rombongan belajar (rombel).
“Kalau MPLS dulu yang menggawangi atau mendampingi adik-adik itu dari OSIS maupun MPK. Untuk tahun ini peran guru lebih dimaksimlakan. Artinya guru harus terlibat lebih banyak dalam kegiatan ini. Sehingga akan sedikit mengurangi peran anak-anak OSIS,” jelasnya.
Subagio sebut tak ada perbedaan signifikan pada Kurikulum Nasional dan Merdeka
Menurutnya, Kurikulum Nasional dan Kurikulum Merdeka sebenarnya hampir sama. Tak ada perbedaan yang begitu signifikan.
Hanya saja, kata Subagio, terdapat perbedaan pada P5 atau Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
“Kalau dari sekolah penginnya P5 itu sederhana, tapi dari orang tua yang kadang bikin itu gak sederhana, sehingga memberatkan, ini yang jadi evaluasi sehingga kegiatan P5 di kurikulum ini masuk ke dalam kokurikuler,” terangnya.
Subagio menuturkan, kokurikuler merupakan kegiatan di luar kelas untuk memperkuat, memperdalam, atau memperkaya materi pelajaran yang sudah siswa pelajari dalam kegiatan intrakurikuler.
“Kokurikuler menguatkan intrakurikuler, contohnya di mapel fisika nanti kokurikulernya itu kegiatannya gabungan atau lintas mapel, berkolaborasi membuat suatu project sehingga penilaiannya secara bersama,” ungkap dia.
BACA JUGA: Unik dan Gak Sok Asyik, Ini 5 Contoh Pesan dan Kesan untuk Kakak OSIS Pendamping MPLS 2024
Dalam penerapan ini, Subagio menyebut implementasi lintas mapel begtiu memungkinkan.
“Misal di IPA kan ada beberapa disiplin ilmu. Contohnya kulit pisang kenapa di lantai bisa bikin terpeleset, itu dikaji lebih mendalam. Kalau di intrakurikuler kan gak sedetail itu, di situ [kokurikuler] akan dikaji lebih mendalam. Kalau di fisika gesekannya, di biologi apa yang terkandung di dalam itu,” pungkas Subagio. (*)
Editor: Farah Nazila





