“Untuk Muktamar NU saya rasa kita tidak boleh intervensi atas nama pemerintah. Ya, kita serahkan kepada para muktamirin untuk menentukan siapa-siapa saja yang bisa menahkodai Nahdlatul Ulama itu sendiri,” ujar Gus Yasin saat beritajateng.tv temui usai pelantikan pengurus MUI Jawa Tengah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Senin, 24 Agustus 2026.
Ia mengatakan, siapa pun yang nantinya terpilih harus mampu membangun kepengurusan yang saling melengkapi. Menurutnya, kepengurusan NU tidak semata-mata ԁitujukan untuk kepentingan internal organisasi, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsa Indonesia.
“Enggak mungkin semua itu terbaik karena manusia pasti ada kekurangannya. Yang penting adalah kebersamaan Nahdlatul Ulama itu sendiri,” kata Gus Yasin.
“Nanti yang terpilih bisa membuat sebuah kepengurusan yang saling melengkapi, bukan hanya untuk kepentingan umat, bukan hanya kepentingan Nahdlatul Ulama, akan tetapi menjadi kepentingan bangsa negara Indonesia. Karena Nahdlatul Ulama ini juga bagian besar bangsa negara Indonesia, khususnya Jawa Tengah,” ujarnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





