Meski begitu, Andreas menuturkan jika elektabilitas antara semua nama tersebut masih belum terbaca. Hanya saja, ketiganya sudah relatif dikenali oleh masyarakat selama 5 tahun terakhir.
“Kita belum melihat ketokohan. Karena menarik juga, karena 2018 siapa menduga bahwa seorang Sudirman Said, bukan orang partai di Jateng bisa hanya kalah tipis dengan Ganjar – Gus Yasin,” katanya.
Lebih lanjut, Andreas menanggap jika semua kandidat nantinya memiliki awal yang sama. Hal itu lantaran, sikap politik Ganjar sebagai gubernur periode sebelumnya tidak terlalu bersar berdampak terhadap persaingan.
Apalagi, masa jabatan Ganjar sebagai gubernur telah resmi berakhir sejak 5 September 2023. Jauh sebelum pelaksanaan Pilgub 2024.
“Saya rasa kalau pengaruh Pak Ganjar kecil, lebih kepada partai bukan pribadi lagi. Jadi, sekarang kondisnya nol-nol semua, meski Pak Ganjar sudah 2 periode di sini tapi tidak punya pengaruh kuat. Lebih ke pengaruh partai, dalam hal ini PDI Perjuangan,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila