SEMARANG, beritajateng.tv – Para orang tua korban lomba tari yang batal terlaksana di Kota Semarang meminta itikad baik pihak panitia penyelenggara. Hal ini lantaran hingga saat ini tidak ada kejelasan terkait kompensasi maupun permintaan maaf dari penyelenggara kegiatan.
Salah satu orang tua korban lomba tari, Retno Budi Mintarwati mengaku kecewa. Terlebih gagalnya lomba tari tersebut membawa trauma tersendiri bagi buah hatinya.
“Kecewa. Saya ini kan korban. Saya kepikiran anak saya yang kemarin sampai trauma,” ujar Retno sambil menitikan air mata.
BACA JUGA: Tak Ada Titik Temu Mediasi Kasus Lomba Tari dengan Disbudpar Semarang, Ketua Panitia Walk Out
Ia mengaku telah beberapa kali audiensi di provinsi. Berlanjut dengan audiensi di pemerintah kota melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Namun, audiensi selalu tidak memberikan titik temu.
“Memang ada mediasi, tapi gagal. Di gubernuran gagal. Di pemkot gagal. Ribet,” ungkapnya.
Padahal ia telah meluangkan waktu untuk hadir dalam mediasi tersebut. Namun tak dinyana Ketua Panitia justru pergi dan tak meneruskan audiensi.
“Saya sudah berniat baik datang kesini, berharap masalah seperti ini bisa dselesaikan baik baik. Tidak perlu sampai ke kepolisian, capek juga. Di rembuk baik-baik, saya kesini juga capek, tapi gak selesai-selesai juga,” tuturnya.
Dia berharap, ada itikad baik dari pihak penyelenggara. Pihaknya pun berharap bisa diselesaikan dengan kekeluargaan.
Ia mengakui jika para peserta lomba hanya meminta keadilan. Pasalnya, cukup banyak kerugian yang telah korban alami.
“Kami sebagai orang yang dizolimi, berharap keadilan itu ada. Saya minta keadilan. Kerugian materi lumayan banyak, latihan, transportasi, banyak. Kerugian immaterial juga ada. Senggaknya, ada itikad baik, ada tanggungjawab. Kompensasi dan lain-lain nggak jelas. Di ajak masuk (audiensi) nggak mau. Sebenarnya, dari kami nggak mau ribut,” paparnya.
Senada Perwakilan salah satu sanggar tari, Endang mengatakan, pihaknya ingin penyelesian yang baik, selesai secara kekeluargaan. Namun pada audiensi kali ini, tidak ada kesepakatan apapun.
“Tadi tidak ketemu hasil. Soalnya bu Mei tidak mau masuk ke ruangan. Tidak terjadi kesepakatan apapun,” kata dia.
Dari Sanggar, berkeinginan agar ada penyelesaian yang baik secara kekeluargaan. “Kami ingin penyelesaian yang baik, kalau bisa dari sisi kekeluargaan monggo,” ungkapnya.
“Namun kali ini malah bu Mei itu malah menghindari, keluar. Padahal sudah ada nama-nama undangan yang tertera dengan jelas, tapi malah bu Mei tadi gak mau masuk (ruangan). Kami menyesalkan bu Mei keluar, padahal harapan kami biar cepat selesai,” ungkapnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





