SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 350 mahasiswa dan mahasiswi Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menampilkan hasil karya seni mereka dalam pameran Gema Rupa: Education Art Festival #3 di Aula Gedung Baru Lantai 1 UPGRIS, Selasa (20/6/2023).
Karya yang tampil merupakan hasil mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran mata kuliah seni rupa selama satu semester.
Mata kuliah seni rupa merupakan mata kuliah yang ada di prodi PGSD UPGRIS. Dengan mata kuliah tersebut, mahasiswa PGSD beroleh tuntutan untuk tidak hanya mengajar, namun juga memiliki keterampilan seni.
“Ada lebih dari 1000 karya yang dipamerkan. Mungkin orang taunya ini dari jurusan seni rupa, padahal ini adalah karya mahasiswa PGSD, jadi sebagai bukti bahwa mahasiswa PGSD juga bisa belajar seni rupa,” terang dosen sekaligus Ketua Pelaksana, Singgih Adhi Prasetyo, Selasa (20/6/2023).
BACA JUGA: Pameran Kolaborasi 33 Museum Tarik Minat 5.000 Pengunjung
Pameran Gema Rupa: Education Art Festival #3 UPGRIS
Sebagaimana penyampaian Fina Sifaur Rohmah, mahasiswa PGSD angkatan 2021. Ia mengaku tak terbiasa memegang kuas dan kanvas, namun melalui mata kuliah seni rupa, ia bisa memaksa untuk memulai melukis dan berakhir mampu menghasilkan karya yang bernilai tinggi.
“Lukisan ini menceritakan seorang perempuan yang barangkali mempunyai masalah itu selalu direndam sendiri, warna hitam itu menunjukkan bahwasanya dia itu pendiam,” jelas Fina ketika ditanyai soal filosofi lukisannya.
Tak mudah, Fina yang tak terlalu suka melukis akhirnya mampu menyelesaikan lukisan berukuran 30 cm x 30 cm tersebut dalam dua pertemuan kelas. Selain itu, ia tak menyanggah jika di kemudian hari akan kembali melukis.
“Walau nggak pernah ngelukis tapi seneng juga, buat hiburan. Dipajang di pameran merasa diapresiasi,” lanjutnya.
Hal senada juga Aji Arum sampaikan. Berbeda dengan Fina yang menghasilkan karya seni lukisan, mahasiswa PGSD angkatan 2021 tersebut berhasil merancang stone art painting yang menggemaskan.
“Ini punya saya adalah stone art, yaitu kerajinan melukis batu. Susah karena medianya berbeda, bukan umum kaya kanvas, tapi seru juga sih,” katanya.
Singgih menambahkan, bahwa tidak hanya sekadar mengajar dan mempelajari kurikulum pendidikan, mahasiswa PGSD juga mampu menggali kemampuan seni mereka. Tak heran jika kemudian hari, banyak mahasiswa PGSD yang memiliki jiwa seni tinggi. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





