Jateng

Tambang Gunung Slamet Kantongi Izin, Pengamat: Tetap Rusak Lingkungan, Pemulihan Sangat Lama

×

Tambang Gunung Slamet Kantongi Izin, Pengamat: Tetap Rusak Lingkungan, Pemulihan Sangat Lama

Sebarkan artikel ini
Gunung Slamet Tambang
Tampilan aktivitas tambang di Gunung Slamet via Google Earth. (Foto: Instagram/@purwokertoonline)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak lima kegiatan tambang di lereng Gunung Slamet mengantungi izin. Namun, berdasarkan keterangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, hanya tiga dari lima yang beroperasi.

Kegiatan tambang di Desa Gendatapa Kecamatan Sumbang dan Desa Baseh Kecamatan Kedungbanteng disebut telah mendapat izin dari Dinas ESDM Jawa Tengah. Sementara di Bukit Jenar, Desa Baseh, saat ini ditutup sementara karena diketahui tidak melakukan proses penambangan sesuai dengan ketentuan.

Meskipun sudah mengantongi izin, Pakar lingkungan dan tata kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Mila Karmila, menegaskan tambang sifatnya tetap merusak lingkungan. Utamanya terkait pemulihan lingkungan di sekitarnya.

“Sebenarnya tambang di mana-mana itu merusak lingkungan; mau apa pun namanya pasti akan berpengaruh pada kawasan sekitarnya. Kalau sudah mengantungi izin, pasti pemulihannya akan sangat lama, kan?” ujar Mila saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Minggu, 14 Desember 2025.

BACA JUGA: ESDM Jateng Klaim Tambang Gunung Slamet Aman, Pengamat: Warga yang Terimbas, Orang Dinas Tidak

Pemulihan lingkungan pascatambang, menurut Mila, bukan proses singkat. Dampak kerusakan tidak bisa serta-merta dipulihkan meski kegiatan tambang telah dihentikan.

“Pemulihannya itu sangat lama, tidak serta-merta bisa berubah menjadi seperti semula. Proses pemulihan itu panjang,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan sejauh mana analisis dampak lingkungan atau AMDAL benar-benar dijalankan sebelum izin diberikan, termasuk kejelasan status legalitas tambang.

“Belum lagi apakah sudah dilakukan analisis dampak lingkungan dari kegiatan penambangan itu. Ini yang sering kali jadi persoalan, apalagi kalau tambangnya ilegal. Kita tidak tahu ini legal atau ilegal, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana izinnya,” kata Mila.

Tambang di Gunung Slamet berada di wilayah Banyumas, tapi kewenangan perizinan di tingkat Provinsi Jateng

Mila menyoroti kewenangan perizinan tambang yang berada di tingkat provinsi, meskipun lokasi tambang berada di wilayah kabupaten.

“Sekarang masalahnya, walaupun Banyumas yang punya wilayah, izinnya bukan di kabupaten, tapi di ESDM provinsi,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengawasan menjadi tidak optimal. Kabupaten tidak memiliki kewenangan untuk melakukan monitoring, sementara kapasitas pengawasan di tingkat provinsi terbatas.

“Kalau menyerahkan pengawasan ke kabupaten, kabupaten tidak punya wewenang karena monitoring oleh ESDM provinsi. Pertanyaannya, berapa banyak SDM yang dimiliki untuk memonitor kegiatan tambang di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah?” ujar Mila.

Seharusnya, kata Mila, ada sistem pengawasan berkala yang jelas jika izin tambang tetap diberikan.

“Harusnya kalau izin diberikan, itu dimonitor. Bagaimana proses penambangannya, bagaimana dampak lingkungannya,” tegasnya.

Nilai wajar warga minta tambang tutup permanen, kompensasi dampak belum jelas

Menanggapi desakan warga Baseh terkait penutupan permanen tambang di Bukit Jenar, Mila menilai tuntutan tersebut wajar. Sekalipun tambang berizin, dampak lingkungan dan sosial tetap tidak terhindarkan.

Ia menegaskan, jika aktivitas tambang tetap berlanjut, maka masyarakat terdampak seharusnya mendapatkan kompensasi yang jelas. Mila mencontohkan kerusakan infrastruktur akibat aktivitas tambang yang kerap luput dari perhatian.

“Kalau tambang tetap berjalan, masyarakat yang terdampak itu harus dapat kompensasi. Kompensasinya apa? Misal jalannya yang dulu tidak rusak karena tidak ada truk, sekarang rusak. Bayangkan malam-malam ada ibu mau melahirkan, jalannya rusak. Apakah tidak berbahaya?” kata Mila.

Menurutnya, hal-hal mendasar seperti itu sering kali tidak pemerintah pikirkan saat memberikan izin tambang. Ia menegaskan warga berhak menuntut penghentian permanen jika tidak ada jaminan perlindungan dan kompensasi.

BACA JUGA: Dinas ESDM Jateng Pastikan Tambang di Gunung Slamet Tak Akan Bikin Bencana Seperti di Sumatera: Skalanya Kecil

“Itu pemerintah mikir enggak sampai situ. Iyalah wajar [ada penolakan]. Warga berada di sana, mereka yang akan menerima dampak pertama. Harusnya mereka ikut serta dan mendapat prioritas penanganan kalau terjadi masalah,” tegasnya.

Mila menilai tak tepat jika pemerintah beralasan belum terjadi bencana lalu menganggap tambang aman. “Tidak kemudian karena belum terjadi terus menganggap enggak ada masalah. Kalau begitu ya salah,” ujarnya.

Lebih jauh, Mila mengingatkan bahwa aktivitas tambang galian C di lereng Gunung Slamet berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan, utamanya risiko longsor.

“Yang paling parah itu kalau keruk tambang galian C terus-menerus dan tidak ada rehabilitasi atau perkuatan lereng, kemungkinan longsor itu cukup besar,” kata Mila.

Menurutnya, risiko tersebut hanya bisa terminimalisir jika ada upaya teknis yang jelas dan terdokumentasi. “Kecuali memang ada perkuatan-perkuatan, misalnya bronjong, supaya kalau ada longsor masih bisa tertahan,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp