“Mulai dulu dari fun, enjoy sport-nya. Kalau sudah suka, baru cari coach dan komunitas yang sesuai supaya bisa berkembang,” tuturnya.
Peluang Emas Prestasi untuk Indonesia dari Olahraga Padel
Ledakan popularitas padel menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk mencetak prestasi di olahraga baru. Tetapi tanpa fondasi yang kuat, dari pelatih, klub, hingga sistem pembinaan, padel berisiko hanya menjadi euforia sesaat.
Salah satu pemain padel baru di Semarang, Lydia (40), mengaku baru menganal olahraga ini sekitar empat hingga lima bulan. Ia langsung jatuh hati pada sensasi permainan yang menurutnya seru dan dinamis. Padel bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga cara Lydia mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, apalagi dengan dukungan penuh dari sang suami.
“Baru sekitar empat sampai lima bulan main padel. Awalnya karena seru, buat ngisi waktu luang juga, dan pastinya di-support suami,” ujar Lydia.
Meski mengaku menyukai olahraga, Lydia menyebut padel sebagai satu-satunya olahraga berbasis permainan yang benar-benar ia tekuni. Dalam sepekan, ia bisa turun ke lapangan tiga hingga empat kali, menjadikan padel bagian dari rutinitas barunya. Baginya, padel tak perlu dibawa terlalu serius di awal, cukup dinikmati sebagai permainan yang fun.
“Aku suka olahraga, tapi kalau yang bentuknya game, cuma padel yang aku mainkan. Biasanya tiga sampai empat kali dalam seminggu,” katanya.
Tanpa latar belakang tenis, Lydia tak merasa terbebani oleh perbandingan teknis. Ia hanya mendengar bahwa padel menuntut pemain lebih aktif mengejar bola. Seiring meningkatnya jam bermain, tantangan baru pun ia cari.
“Katanya sih padel itu lebih ngejar bola dibanding tenis, tapi aku nggak punya pengalaman main tenis, jadi ya padel aku bikin fun aja,” lanjutnya.





