SEMARANG, beritajateng.tv – Olahraga padel tengah berada di fase euforia di Indonesia. Dalam hitungan tahun, lapangan-lapangan baru bermunculan, komunitas tumbuh pesat, dan minat masyarakat meningkat tajam.
Namun, di balik grafik pertumbuhan yang menanjak tajam, tersimpan pertanyaan penting: apakah Indonesia sudah siap menata fondasi olahraga yang berlari terlalu cepat ini?
Padel sejatinya bukan olahraga baru di dunia. Cabang olahraga yang lahir di Meksiko pada 1969 ini perlahan menyebar ke Eropa dan Amerika Latin, sebelum akhirnya mencuri perhatian Asia, termasuk Indonesia. Menariknya, Indonesia justru menjadi salah satu negara dengan laju pertumbuhan padel tercepat di kawasan.
“Masuknya padel ke KONI itu baru tahun 2025, tapi pertumbuhannya sangat cepat. Dari tahun lalu sampai sekarang, grafiknya naik luar biasa,” kata Zar Lasahido, atlet dan pelatih padel nomor satu di Indonesia.
Ia mencontohkan Jakarta sebagai barometer. Dalam waktu singkat, jumlah lapangan padel di ibu kota hampir menyentuh angka 1.000. Fenomena ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar padel paling agresif di Asia.
BACA JUGA: Fakta di Balik Melejitnya Padel di Jawa Tengah, Bakal Tembus 80 Lapangan Baru
Namun menurut Zar, kecepatan ini sekaligus menjadi tantangan utama. Ekosistem padel di Indonesia masih tergolong muda, sementara kebutuhan akan kualitas pembinaan justru semakin mendesak.
“Growth-nya [pertumbuhannya] terlalu cepat. Klub-klub masih butuh knowledge, pelatih juga perlu sertifikasi dan edukasi yang benar supaya olahraga ini bisa panjang umurnya,” ujarnya.
Tantangan lain adalah memastikan padel tidak berhenti sebagai olahraga gaya hidup semata. Dengan padel yang sudah masuk KONI, Kemenpora, hingga Olympic Committee Asia, arah pengembangan ke level prestasi menjadi keniscayaan.
“Asian Games sudah masuk, dan mudah-mudahan Olimpiade juga. Itu artinya kita harus siap dari sekarang,” kata Zar.
Bagi pemula, padel memang terasa ramah dan menyenangkan. Namun justru di situlah titik awal pembinaan harus dimulai. Zar menilai pendekatan yang tepat adalah menanamkan kesenangan tanpa mengabaikan proses belajar yang benar.
“Mulai dulu dari fun, enjoy sport-nya. Kalau sudah suka, baru cari coach dan komunitas yang sesuai supaya bisa berkembang,” tuturnya.
Peluang Emas Prestasi untuk Indonesia dari Olahraga Padel
Ledakan popularitas padel menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk mencetak prestasi di olahraga baru. Tetapi tanpa fondasi yang kuat, dari pelatih, klub, hingga sistem pembinaan, padel berisiko hanya menjadi euforia sesaat.
Salah satu pemain padel baru di Semarang, Lydia (40), mengaku baru menganal olahraga ini sekitar empat hingga lima bulan. Ia langsung jatuh hati pada sensasi permainan yang menurutnya seru dan dinamis. Padel bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga cara Lydia mengisi waktu luang dengan kegiatan yang menyenangkan, apalagi dengan dukungan penuh dari sang suami.
“Baru sekitar empat sampai lima bulan main padel. Awalnya karena seru, buat ngisi waktu luang juga, dan pastinya di-support suami,” ujar Lydia.
Meski mengaku menyukai olahraga, Lydia menyebut padel sebagai satu-satunya olahraga berbasis permainan yang benar-benar ia tekuni. Dalam sepekan, ia bisa turun ke lapangan tiga hingga empat kali, menjadikan padel bagian dari rutinitas barunya. Baginya, padel tak perlu dibawa terlalu serius di awal, cukup dinikmati sebagai permainan yang fun.
“Aku suka olahraga, tapi kalau yang bentuknya game, cuma padel yang aku mainkan. Biasanya tiga sampai empat kali dalam seminggu,” katanya.
Tanpa latar belakang tenis, Lydia tak merasa terbebani oleh perbandingan teknis. Ia hanya mendengar bahwa padel menuntut pemain lebih aktif mengejar bola. Seiring meningkatnya jam bermain, tantangan baru pun ia cari.
“Katanya sih padel itu lebih ngejar bola dibanding tenis, tapi aku nggak punya pengalaman main tenis, jadi ya padel aku bikin fun aja,” lanjutnya.
Lydia mulai memberanikan diri mengikuti turnamen-turnamen padel lokal yang kini semakin marak di Semarang, bukan semata untuk menang, melainkan untuk menguji dan melampaui batas dirinya sendiri.
Kutipan Langsung
“Sekarang aku coba ikut-ikut turnamen buat menantang diri sendiri. Apalagi di Semarang mulai banyak turnamen padel,” pungkas Lydia. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





