JAKARTA, beritajateng.tv – Di tengah tantangan industri telekomunikasi yang semakin dinamis, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menunjukkan optimisme kuat menghadapi masa depan.
Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada Senin (8/6/2026). Perusahaan pelat merah Telkom Indonesia ini tak hanya membagikan dividen jumbo senilai Rp21,9 triliun. Tetapi juga menyiapkan program pembelian kembali saham (buyback) hingga Rp4 triliun sebagai langkah memperkuat nilai perusahaan dan kepercayaan investor.
Keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa transformasi besar yang tengah Telkom jalankan mulai menunjukkan fondasi yang semakin kokoh.
Di tengah tekanan ekonomi global dan perubahan cepat industri digital, perusahaan tetap mampu menjaga kesehatan bisnis. Sekaligus memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham.
BACA JUGA: Telkom Cetak Pendapatan Rp37,2 Triliun di Awal 2026, Transformasi Bisnis Mulai Tunjukkan Hasil Positif
Dari total dividen yang pihaknya bagikan, sekitar Rp17,8 triliun berasal dari laba bersih tahun buku 2025. Sementara sisanya sekitar Rp4,2 triliun berasal dari saldo laba tertahan tahun-tahun sebelumnya.
Dividen paling lambat pada 10 Juli 2026 kepada pemegang saham yang tercatat pada Daftar Pemegang Saham per 19 Juni 2026.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa keputusan pembagian dividen telah mempertimbangkan keseimbangan antara penghargaan kepada pemegang saham dan kebutuhan investasi jangka panjang perusahaan.
“Perseroan berhasil menjaga fundamental bisnis dan memperkuat arus kas meskipun menghadapi berbagai tantangan sepanjang 2025. Persetujuan dividen Telkom ini mencerminkan kepercayaan terhadap arah transformasi yang sedang kami jalankan,” ujar Dian.
Tak berhenti pada pembagian dividen, Telkom juga memperoleh restu pemegang saham untuk menjalankan program buyback saham dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Program tersebut akan berlangsung selama satu tahun, mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027.
Langkah buyback ini menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan nilai jangka panjang bagi investor.
Di tengah fluktuasi pasar modal, aksi korporasi tersebut menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan ke depan.
Transformasi Besar Lewat TLKM 30
Di balik berbagai keputusan strategis tersebut, Telkom sesungguhnya tengah menjalankan agenda transformasi besar bertajuk TLKM 30.
Program ini menjadi peta jalan perusahaan untuk beradaptasi dengan era digital sekaligus memperkuat daya saing di tingkat global.
Sepanjang 2025 hingga kuartal pertama 2026, transformasi tersebut berjalan melalui empat pilar utama. Yakni peningkatan efisiensi operasional, penyederhanaan portofolio bisnis, optimalisasi nilai aset, serta perubahan model operasional perusahaan.
Hasilnya mulai terlihat dari kinerja keuangan yang tetap solid. Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp146,74 triliun, EBITDA Rp72,24 triliun, dan laba bersih Rp17,81 triliun sepanjang tahun 2025.
Meski laba bersih mengalami tekanan akibat percepatan depresiasi aset sebagai bagian dari agenda tata kelola baru perusahaan, langkah tersebut bersifat non-tunai sehingga tidak mengganggu kekuatan fundamental bisnis maupun arus kas operasional.
Pada sisi restrukturisasi bisnis, Telkom juga terus merampingkan portofolio usaha dengan fokus pada bisnis inti telekomunikasi dan digital. Sebanyak enam entitas telah Telkom sederhanakan, termasuk penyelesaian divestasi AdMedika Group pada awal Juni 2026.
Unlocking Value Pemisahan Aset dan Bisnis
Sementara itu, upaya membuka nilai aset (unlocking value) melalui pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia yang targetnya rampung pada kuartal ketiga tahun ini. Perseroan juga kembali membuka peluang kemitraan strategis untuk pengembangan bisnis data center yang dproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru.
RUPST juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris sebagai bagian dari penguatan tata kelola perusahaan dalam mengawal transformasi bisnis jangka panjang.
Angga Raka Prabowo dipercaya sebagai Komisaris Utama bersama jajaran komisaris lainnya yang berasal dari berbagai latar belakang profesional.
Sementara Dian Siswarini tetap memimpin perusahaan sebagai Direktur Utama dengan di dukung jajaran direksi baru yang akan mempercepat agenda transformasi digital TelkomGroup.
Penguatan kepemimpinan ini harapannya mampu mempercepat adaptasi perusahaan terhadap perubahan teknologi, kebutuhan pelanggan, serta persaingan industri digital yang semakin kompetitif.
Bagi Telkom, tahun 2025 bukan sekadar periode pencapaian kinerja, melainkan fase penting untuk membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Berbagai keputusan tercipta dalam RUPST menjadi bagian dari strategi besar perusahaan untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham sekaligus mendukung penguatan ekosistem digital nasional.
“Keputusan-keputusan yang kami ambil dalam RUPST ini mencerminkan komitmen Telkom untuk terus meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai tambah. Kami memastikan setiap langkah transformasi dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem digital Indonesia yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing global,” tutup Dian Siswarini.
Dengan dividen jumbo, program buyback triliunan rupiah, serta percepatan transformasi bisnis yang semakin nyata. Telkom kini memasuki babak baru sebagai salah satu motor utama penggerak ekonomi digital Indonesia. (*)





