“Sampai hari ini poin tuntutan yang kami sampaikan di depan kantor DPR maupun kantor gubernur tidak mau ԁidengar maupun ԁigubris pemerintah. Oleh karena itu BEM Semarang Raya melakukan gebrakan dengan aksi di Tugu Muda,” ujarnya.
Rangga juga membandingkan aksi tersebut dengan demonstrasi mahasiswa di Bundaran HI Jakarta yang sebelumnya juga mendapat pengawalan ketat aparat.
BACA JUGA: Mahasiswa Undip Tanggapi Isu di Lingkup Perguruan Tinggi, Dari Penyampaian Aspirasi hingga Dugaan Korupsi
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan yang mereka nilai berkaitan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan tata kelola pemerintahan nasional.
Tuntutan pertama adalah menurunkan harga bahan pokok dan harga bahan bakar minyak (BBM). Kedua, mengembalikan TNI dan Polri pada fungsi utamanya sesuai tugas dan kewenangannya.
Ketiga, mahasiswa meminta evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penghentian program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Keempat, mereka menuntut pengembalian kepemilikan tanah kepada rakyat serta percepatan revitalisasi wilayah terdampak bencana.
Sementara tuntutan kelima adalah penghentian praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan.
Aksi ԁiikuti mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Negeri Semarang (Unnes), UIN Walisongo, Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas PGRI Semarang (Upgris), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), hingga Universitas Semarang (USM). (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





