Jateng

Tokoh Lintas Agama Semarang Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

×

Tokoh Lintas Agama Semarang Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

Sebarkan artikel ini
Tokoh lintas agama di Kota Semarang saat membacakan pernyataan sikap terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus di Wihara Tanah Putih, Kota Semarang, Senin, 16 Maret 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)
Tokoh lintas agama di Kota Semarang saat membacakan pernyataan sikap terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus di Wihara Tanah Putih, Kota Semarang, Senin, 16 Maret 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, mendapat kecaman dari sejumlah tokoh lintas agama di Kota Semarang. Mereka mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

Tokoh lintas agama yang mewakili Katolik, Kristen, Kong Hu Chu, Buddha, Hindu, Islam, penghayat kepercayaan, mahasiswa hingga sejumlah yayasan membacakan sikap bersama di Wihara Tanah Putih, Kota Semarang, Senin, 16 Maret 2026 sore.

Dalam pernyataan sikap tersebut, mereka menyampaikan lima poin tuntutan terkait peristiwa penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus.

Tokoh Lintas Agama Sampaikan Solidaritas untuk Andrie

Perwakilan agama Katolik, Hardhono Susanto, menyampaikan poin pertama berupa solidaritas dan doa untuk kesembuhan Andrie Yunus.

“Kepada saudara Andrie Yunus, kami bersolidaritas pada yang saudara alami. Kami mendoakan semoga saudara Andrie lekas sehat dan pulih kembali secara fisik,” ujar Hardhono saat membacakan pernyataan sikap.

BACA JUGA: Sosok Sitok Srengenge, Sastrawan Kasus Kekerasan Seksual yang Foto Bareng Sal Priadi Bikin Heboh

Ia juga berharap peristiwa tersebut tidak memadamkan semangat Andrie Yunus dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan.

“Kami berharap secara psikis saudara Andrie tidak kehilangan semangat, justru berlipat ganda keberanian dan hikmatnya untuk terus menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan di Indonesia,” lanjutnya.

Tindakan Kekerasan Dinilai Bertentangan dengan Nilai Agama

Poin kedua dibacakan oleh Yohannes Baptista Rudy Hardono yang mengecam keras tindakan kekerasan terhadap Andrie Yunus.

“Kami mengecam keras kekejian pada saudara Andrie Yunus dan tindak teror. Serta intimidasi apa pun terhadap orang-orang yang bersuara bagi kebenaran dan keadilan,” kata Yohannes.

Menurutnya, tindakan kekerasan semacam itu tidak memiliki tempat dalam nilai-nilai agama.

“Tindakan semacam ini sama sekali tidak memiliki tempat dalam nilai-nilai agama mana pun. Bertentangan dengan ajaran kasih sayang dan penghormatan terhadap kehidupan manusia,” ujarnya.

Ia juga menilai peristiwa tersebut mencederai nilai-nilai moral, terlebih terjadi di bulan Ramadan.

“Dalam peristiwa Andrie Yunus, tindakan ini bahkan menodai kesucian Ramadan ketika umat Muslim dipanggil untuk menahan diri dari kekerasan, membersihkan hati, dan memperbanyak amal kebajikan,” lanjutnya.

Desak Aparat Usut Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras

Dalam poin ketiga yang disampaikan dalam pernyataan sikap bersama, tokoh lintas agama mendesak negara dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Mereka meminta penyelidikan berlangsung secara cepat, transparan, dan akuntabel dengan menangkap pelaku serta pihak yang berada di balik tindakan kekerasan tersebut.

Pernyataan tersebut juga menegaskan pentingnya penegakan hukum sebagai bentuk perlindungan negara terhadap warga dari berbagai bentuk kekerasan dan teror, sekaligus memberikan keadilan bagi korban.

Selain itu, langkah tersebut dinilai penting untuk memulihkan rasa aman serta kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.

Negara Diminta Pastikan Pemulihan Korban Secara Menyeluruh

Pendeta Rahmat Paskah Rajagukguk membacakan point keempan, yang mana meminta negara menjamin pemulihan bagi korban.

“Kami juga meminta negara untuk menjamin agar Andrie Yunus bisa menjalani proses pemulihan yang menyeluruh. Baik secara medis, psikologis maupun sosial,” ujarnya.

Menurutnya, pemulihan korban merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi warganya dari kekerasan.

“Sehingga dia dapat menjalani kehidupannya kembali dengan martabat yang utuh,” kata Rahmat.

Selanjutnya, Romo Warto dari perwakilan Buddha di Vihara Tanah Putih yang membacakan tuntutan berikutnya mengajak masyarakat untuk tidak takut bersuara terhadap ketidakadilan.

“Kami mengajak dan berharap semua tokoh dan umat beragama atau kepercayaan. Hal ini agar tetap menyalakan keberanian bersuara bagi kebenaran dan keadilan,” ujarnya.

BACA JUGA: Skandal Unsoed: Psikolog Tegaskan Ketimpangan Kuasa Picu Kekerasan Seksual di Kampus

Mereka juga mengingatkan masyarakat untuk tidak tunduk pada segala bentuk teror dan kekerasan.

“Tidak tunduk terhadap segala bentuk teror dan kekerasan, serta saling menjaga agar ruang publik tetap menjadi tempat yang aman untuk berdiri bagi moralitas, keluhuran budi, dan kemanusiaan,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp