Gaya Hidup

Tolak Tersangka Kreak Dihukum Penjara, Psikolog Dorong Pembinaan Mental

×

Tolak Tersangka Kreak Dihukum Penjara, Psikolog Dorong Pembinaan Mental

Sebarkan artikel ini
psikolog Iis Amalia
Psikolog Iis Amalia. (Dok pribadi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Polrestabes Semarang menahan dan menetapkan tersangka sejumlah remaja yang diduga menjadi anggota gangster atau kreak dan berniat melakukan tindak kekerasan.

Menurut psikolog Iis Amalia, putusan ini sebenarnya kurang tepat. Ia menilai, remaja gangster seharusnya tidak dipidana melainkan menjalani terapi atau pembinaan psikologis.

Ia mengatakan, anggota gangster yang masih di bawah umur secara psikologis belum memiliki kematangan berpikir. Termasuk kemudian dalam melakukan perilaku-perilaku kejahatan.

“Mereka pertimbangannya tidak seperti orang dewasa, struktur otak mereka tidak sematang orang dewasa. Sehingga mereka melakukan hal (kreak) tanpa tau risikonya apa,” katanya saat beritajateng.tv hubungi, Kamis, 26 September 2024.

BACA JUGA: Polisi Buru DPO Alba Fajri Pentolan Gangster Semarang Kasus Duel di Dr. Cipto, Begini Ciri-cirinya

Ia tak memungkiri, banyak pihak yang menyangsikan adanya Undang-Undang Anak dan menginginkan para anggota gangster untuk dihukum berat.

Padahal, saat remaja menjadi pelaku dan masuk penjara, hukuman itu malah bisa menjadi validasi akan perilaku kejahatannya. Nantinya, bukan tidak mungkin terulang saat bebas.

“Saat mereka masuk penjara, nanti malah bisa terulang saat keluar karena ia sedang proses pencarian identitas. Jangan sampai dia merasa dirinya penjahat dan saat keluar terulang,” sambungnya.

Sarankan tersangka gangster jalani terapi psikologi

Lebih lanjut, ia menyebut, alih-alih dipenjara, para pelaku kreak sebaiknya menjalani terapi atau rehabilitasi psikologi. Sebab menurutnya, kunci utama dari pemberantasan gangster adalah menumbuhkan kesadaran diri mereka.

“Kalau ingin mengubah apapun kalau anak belum punya motivasi susah, jadi pembinaan pertama adalah memunculkan kesadaran untuk berhenti dari geng itu,” kata Iis.

Iis menjelaskan, pembinaan psikologi penting agar mereka paham apa yang salah dari kegiatannya. Sekaligus menjadi benteng agar pembentukan identitas diri tidak melenceng.

BACA JUGA: Awas Kreak! Ini Daftar Gangster yang Berkeliaran di Kota Semarang Beserta Daerah Markasnya

Meski begitu, Iis tidak dapat memastikan berapa lama waktu yang terbutuhkan sampai para gangster benar-benar tobat. Hal tersebut dapat bergantung pada pada peran berbagai pihak di kehidupan sehari-hari.

“Itu memang butuh banyak elemen, mulai dari psikologi, pola asuh keluarga, pendidikan. Jangan sampai anak ini membentuk identitas bahwa ia layak menjadi penjahat,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp