Ia berkaca pada kebakaran sebelumnya. Saat itu, petugas membutuhkan waktu hampir 24 jam untuk memastikan api dapat dikendalikan.
Kondisi serupa kini kembali menjadi tantangan. Petugas tidak hanya berhadapan dengan api di permukaan, tetapi juga bara dan gas yang berada di antara timbunan sampah.
Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Damkar Kota Semarang, Tantri Pradono menyebut, tim terus menjaga suplai air agar proses pemadaman berjalan tanpa terputus.
Petugas menerapkan sistem pengisian secara paralel. Dengan cara tersebut, armada tangki dapat bergantian mengisi air sehingga penyemprotan di lokasi kebakaran tetap berlangsung.
Tantri menyebut kadar gas metana yang masih tinggi menjadi salah satu kendala utama. Kondisi itu membuat petugas harus berhati-hati dan belum bisa langsung menyemprot seluruh titik api.
“Di bawah ada satu alat berat untuk membantu penyekatan. Kebakaran membakar zona satu sampai tiga,” ujar Tantri.
Selain penyemprotan air, alat berat digunakan untuk membantu membuat sekat pada timbunan sampah. Langkah ini dilakukan agar api tidak terus merambat ke area lain.
Petugas kini masih berupaya melokalisasi kobaran api sekaligus mencegah munculnya titik api baru. Penanganan akan terus berjalan hingga kondisi dinilai cukup aman untuk memasuki tahap pendinginan.
Kebakaran TPA Jatibarang kembali menunjukkan tingginya tantangan penanganan kebakaran di kawasan timbunan sampah, terutama saat kondisi lingkungan kering.
Keberadaan gas metana membuat api berpotensi muncul kembali sehingga proses pemadaman membutuhkan penanganan berlapis. (*)





