“Tantangan terbesar memang ada pada konsumsi daya di medan menanjak. Itu yang kami uji secara detail, termasuk efisiensi baterai dan waktu pengisian ulangnya,” jelas Danang.
Meski demikian, ia memastikan aspek keselamatan tetap menjadi prioritas. Bus listrik yang di uji telah memenuhi standar keamanan, termasuk saat melintasi genangan air, karena sebelumnya telah beroperasi di beberapa kota lain di Indonesia.
Operasional penuh bus listrik Trans Semarang targetnya mulai pada akhir 2026. Setelah seluruh perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK) selesai dan hasil uji coba akan ada evaluasi.
Sementara itu, Kepala BLUD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, mengungkapkan anggaran operasional bus listrik di Koridor 1 untuk periode 1 Agustus hingga 31 Desember 2026 di proyeksikan mencapai sekitar Rp21 miliar.
“Kami prinsipnya belanja jasa. Di dalam BOK itu sudah termasuk maintenance. Jadi operator bertanggung jawab penuh terhadap operasional dan perawatan armada,” terang Haris.
Uji coba rencananya berlangsung selama satu bulan dengan sistem pergantian tipe bus setiap pekan. Saat ini, empat produsen telah mengajukan permohonan uji coba, dan tiga di antaranya sudah mulai terealisasikan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





