Gaya Hidup

Trauma Lama Berubah Jadi Teror, Film Hasut Ajak Penonton Menguji Batas Kepercayaan

×

Trauma Lama Berubah Jadi Teror, Film Hasut Ajak Penonton Menguji Batas Kepercayaan

Sebarkan artikel ini
Trauma Lama Berubah Jadi Teror, Film Hasut Ajak Penonton Menguji Batas Kepercayaan
Film horor-misteri Hasut karya penulis sekaligus sutradara Ilya Sigma siap mengguncang bioskop Indonesia. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Teror tak selalu datang dari sosok menyeramkan atau penampakan hantu. Terkadang, ketakutan justru tumbuh dari suara yang membisikkan kecurigaan, luka masa lalu yang belum sembuh, dan pikiran yang perlahan kehilangan kepercayaan kepada orang lain.

Gagasan itulah yang kemudian menghadirkan film horor-misteri Hasut karya penulis sekaligus sutradara Ilya Sigma.

Film produksi Tuta Films ini menghadirkan teror psikologis yang mengajak penonton menyelami sisi gelap manusia ketika trauma dan hasutan mulai menguasai pikiran.

Film Hasut menjadi salah satu pilihan tontonan bagi warga Semarang. Dalam Film ini menawarkan pendekatan horor berbeda dengan membangun ketegangan melalui suara-suara misterius dan konflik psikologis, bukan semata-mata mengandalkan penampakan.

Cerita berpusat pada empat sahabat yang pergi ke tengah hutan untuk menjalani ritual penyembuhan. Mereka berharap menemukan kedamaian, tetapi perjalanan itu justru berubah menjadi pengalaman menegangkan ketika suara-suara asing mulai memicu kecurigaan di antara mereka.

Masing-masing membawa luka dan trauma dari masa lalu. Ketika bisikan misterius memperkeruh keadaan, mereka mulai mempertanyakan satu sama lain. Rasa takut pun berkembang menjadi paranoia yang mengancam persahabatan mereka.

Ilya Sigma mengatakan, film ini tidak hanya ingin menghadirkan ketegangan, tetapi juga mengajak penonton mengevaluasi perkataan dan perilaku mereka terhadap orang lain.

“Film Hasut ingin mengajak penonton untuk bercermin, apakah kata-kata kita bisa menyakiti orang lain, tujuan yang ingin kita tuju, juga bisa menyebabkan yang lain terluka? Aku harap setelah menonton film Hasut, kita juga bisa lebih memiliki empati yang tinggi,” ujar Ilya.

Trauma masa lalu menjadi sumber teror

Salah satu karakter yang memperlihatkan pergulatan batin dalam film ini adalah Dharma, yang di perankan Marthino Lio. Ia menjadi sosok yang masih membawa trauma akibat pengalaman dtinggalkan pada masa lalu.

Pengalaman tersebut memengaruhi cara Dharma menghadapi situasi dan menentukan pilihan dalam kehidupannya. Melalui karakter ini, film Hasut menyoroti bagaimana luka emosional yang belum dihadapi dapat terus membayangi seseorang.

Marthino mengungkapkan, memerankan Dharma membuatnya mengeksplorasi kesepian dan ketakutan yang muncul akibat pengalaman tersebut.

“Semua orang kan punya traumanya masing-masing. Di sini, Dharma memiliki trauma ditinggalkan. Dan bagaimana Dharma menghadapi trauma itu ya tidak ada jalan lain kecuali dihadapi,” kata Marthino.

Ia juga menggambarkan perjalanan Dharma dalam menerima masa lalu dan menentukan sikap untuk menjalani kehidupan berikutnya.

“Oke, saya memang pernah ditinggal, itu sakit, tetapi itu di masa lalu dan sekarang saya sudah memilih untuk menjadi orang yang saya pilih,” lanjutnya.

Konflik tersebut menjadi salah satu pintu masuk bagi penonton untuk memahami bahwa trauma tidak selalu terlihat dari luar. Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan perkataan, membaca situasi, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Mengandalkan suara misterius, bukan sekadar penampakan

Berbeda dari horor yang mengandalkan kemunculan makhluk menyeramkan, Hasut membangun atmosfer melalui suara-suara misterius yang semakin manipulatif.

Suara tersebut membuat keempat karakter meragukan apa yang mereka dengar sekaligus mempertanyakan siapa yang masih bisa dipercaya.

Hutan menjadi ruang yang mempersempit pilihan mereka. Setiap suara bisa terasa seperti petunjuk, ancaman, atau kebohongan. Ketegangan kemudian tumbuh seiring meningkatnya kecurigaan dan perubahan perilaku para karakter.

Pendekatan ini menempatkan pikiran manusia sebagai pusat teror. Penonton di ajak menebak apakah ancaman yang muncul benar-benar berasal dari luar atau justru di perbesar oleh ketakutan dan luka batin mereka sendiri.

Selain Marthino Lio, film Hasut di bintangi Karina Salim, Rachel Amanda, dan Kevin Ardilova. Putrama Tuta dan Siera Tamihardja bertindak sebagai produser, sedangkan Nick Musa menjadi ko-produser.

Melalui perpaduan misteri, trauma, dan konflik antarmanusia, Hasut menawarkan pengalaman horor yang tidak berhenti pada rasa takut. Film ini juga mengajukan pertanyaan tentang dampak perkataan, pentingnya empati, dan bagaimana kecurigaan dapat merusak kepercayaan. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp