SEMARANG, beritajateng.tv – Minat generasi muda terhadap investasi reksa dana terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Tren ini terlihat dari data terbaru yang menunjukkan bahwa mayoritas investor reksa dana di Indonesia kini berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.
Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia mencatat jumlah investor reksa dana terus bertambah hingga akhir 2025.
Pengurus APRDI, Gresia Kusyanto, menyebut pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif meningkatnya kesadaran investasi di kalangan anak muda.
“Data Single Investor Identification menunjukkan jumlah investor mencapai 19,2 juta SID pada akhir 2025. Dari jumlah itu, 54,24 persen merupakan investor berusia di bawah 30 tahun,” ujarnya saat kegiatan edukasi investasi di Semarang.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan pola pikir generasi muda yang mulai menempatkan investasi sebagai bagian dari perencanaan keuangan sejak dini.
Menurut Gresia, pertumbuhan investor sejalan dengan peningkatan dana kelolaan industri reksa dana yang melonjak signifikan.
BACA JUGA: OJK Luncurkan Panduan Media Sosial untuk Bank, Fokus Tata Kelola dan Risiko Digital
Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana pada akhir 2025 tercatat mencapai Rp679,24 triliun. Meningkat 35,06 persen dari akhir 2024 yang berada di angka Rp502,92 triliun. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi setelah beberapa tahun terakhir cenderung stagnan.
“Kenaikan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap instrumen reksa dana semakin kuat,” katanya.
Untuk menjaga tren positif tersebut, APRDI menggandeng Otoritas Jasa Keuangan dan Self Regulatory Organization (SRO) menjalankan program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026.
Program ini mulai dengan kegiatan Road to Pekan Reksa Dana 2026 di sejumlah kota, termasuk Semarang.
Kegiatan edukasi yang berlangsung di Kantor OJK Jawa Tengah serta sejumlah perguruan tinggi yang memiliki Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia. Program ini harapannya mampu memperluas literasi keuangan sekaligus meningkatkan inklusi investasi reksa dana.
Gresia menjelaskan kampanye #ReksaDanaAja menjadi bagian dari strategi industri untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap produk investasi yang relatif mudah diakses.
“Kampanye ini merupakan langkah nyata industri untuk memperluas literasi dan inklusi reksa dana di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala OJK Jawa Tengah Hidayat Prabowo menilai penguatan literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak di tengah semakin mudahnya akses investasi digital.
“Reksa dana, khususnya reksa dana pasar uang, bisa menjadi pintu masuk bagi investor pemula. Namun masyarakat tetap harus berhati-hati agar tidak terjebak investasi ilegal,” katanya.
Ia menegaskan sinergi antara regulator, pelaku industri, media, dan komunitas menjadi kunci untuk melindungi masyarakat sekaligus mendorong partisipasi investasi yang sehat dan berkelanjutan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





