“Sekarang gini ya, kejadian-kejadian luar biasa [keracunan] itu kami evaluasi, apakah itu tiap hari? Kan enggak. Apakah itu tiap bulan? Terus kita persentasenya bagaimana, ya kami edukasi semuanya,” ujar Gus Yasin.
BACA JUGA: Usai Kasus Keracunan MBG dari SPPG Karangturi, Kepala SMKN 6 Semarang Minta Siswa Bawa Bekal dari Rumah
Ia berharap pendampingan dan edukasi dapat membantu mengembalikan kepercayaan masyarakat, utamanya pada siswa yang mengalami trauma setelah kejadian keracunan massal.
“Artinya kejadian luar biasa itu tidak terjadi tiap saat dan itu ada kelalaian ya kan? Jadi nanti kami dampingi, semoga saja nanti bisa kami edukasi masyarakat untuk menerimanya,” katanya.
Terkait kemungkinan sekolah tidak lagi menerima MBG karena kekhawatiran siswa pasca keracunan massal, Gus Yasin mengatakan pihaknya tetap meminta akses agar program tersebut terus berjalan.
Menurutnya, MBG merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan sekaligus memperbaiki gizi masyarakat.
“Ketentuannya kan harus memberikan pintu ya untuk membuka akses itu, karena ini pemerintah memberikan pemenuhan kebutuhan gizi, perbaikan gizi. Nah, ini yang harus kami fasilitasi,” ujarnya.
“Tidak semuanya kan sekolah selama ini menerima, ada juga dari dulu, tapi ya jalan-jalan aja. Gitu kan. Kami komunikasikan jangan sampai sekolah menolak,” tandas Gus Yasin. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





