SEMARANG, beritajateng.tv – Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) akhirnya memiliki Guru Besar Bidang Ilmu Biomedik dengan pengukuhan Prof. Dr. Budi Santosa, M.Si., Med. Adapun pengukuhan ini berlangsung dalam Rapat Terbuka Senat Unimus dipimpin Rektor Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd, di Aula lantai 8 Gedung Kuliah Bersama II, Rabu, 7 Februari 2024.
Rektor Unimus, Masrukhi, menyebut jika Budi Santosa adalah Guru Besar ke-6 yang dikukuhkan Unimus serta Guru Besar ke-3 yang lahir langsung di kampus tersebut.
“Alhamdulillah hari ini Unimus kembali mengukuhkan seorang Guru Besar yaitu Prof. Budi Santosa, beliau merupakan Wakil Rektor bidang akademik Unimus yang kepakaran beliau di bidang Ilmu Biomedik berasal dari Prodi Science Laboratorium Medic,” katanya ke awak media setelah pengukuhan.
Masrukhi menuturkan, pengukuhan Budi Santosa sebagai Guru Besar tentu menambah kekuatan baru sumber daya manusia (SDM) di Unimus. Terlebih, Unimus masih berusia muda yakni 24 tahun.
BACA JUGA: Dinas Pendidikan Kota Semarang Buka Kuota Jalur Inklusi pada PPDB 2024/2025 Sebesar 15 Persen
Dengan adanya Budi Santosa sebagai Guru Besar, kata Masrukhi, merupakan salah satu cara dalam meningkatan kualitas pendidikan melalui SDM. Harapannya, kehadiran Budi Santosa sebagai Profesor baru tentu dapat memperkuat jajaran kelembagaan Unimus.
“Kami terus memotivasi untuk temen-teman segera menaikkan jabatan fungsional, mulai asisten ahli, lektor, lektor kepala sampai Guru Besar,” imbuhnya.
Unimus petakan tambah 2 profesor lagi di tahun 2024
Sebelumnya, Unimus mengukuhkan Prof Dr Ir Purnomo, ST, MEng sebagai Guru Besar pertama di kampus tersebut pada Kamis, 18 Agustus 2022 silam. Hal itu tentu menjadi hal baik mengingat universitas itu termasuk kampus muda yang baru berdiri pada 4 Agustus 1999.
Masrukhi pun mengungkapkan, akan ada dua profesor baru yang lahir pada tahun 2024 ini.
“Insyaallah kita akan trus memetakan dalam tahun ini kira-kira 2 profesor lagi, persiapan-persiapan, persyaratan, baik di aspek pengajaran, penelitian, karya ilmiah, jurnal dan pengabdian masyarakat,” harapnya.
Sementara itu, Prof Budi Santosa sendiri mengangkat penelitian berjudul Infusa Daun Padi IR Bagendit sebagai Bahan Prefensi Anemia Akibat Paparan Plumbum. Ia meneliti paparan logam berat, khususnya plumbum yang berseliweran di lingkungan sekitar.
Menurutnya, masyarakat sering kali tidak sadar bahwa plumbum, logam berat yang sering industri gunakan ternyata dapat menimbulkan anemia. Penelitiannya pun tentang pencegahan anemia karena faktor plumbum tersebut.
BACA JUGA: Kunjungi Semarang, Direktur IFI Bawa Misi Kerja Sama Budaya, Promosikan Kesempatan Kuliah di Prancis
“Saat ini sedang banyak menjadi perguncingan tentang anemia, tapi saya dari sisi lain. Kalau yang didiskusikan khalayak sekarang kan anemia karena kekurangan gizi, saya mengambilnya anemia dari penyebab yang lain,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





