SEMARANG, beritajateng.tv – Perubahan perilaku anak kerap orang tua hal biasa. Namun di balik itu, bisa jadi merupakan tanda awal anak menjadi korban child grooming, bentuk kekerasan seksual yang berlangsung secara halus dan sering tak tersadari.
Dalam Seminar Media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru-baru ini, dokter spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial, dr. Ariani, menegaskan pentingnya kepekaan orang tua terhadap perubahan sekecil apa pun pada anak.
“Apapun perubahan perilaku anak, kita harus curiga dan aware. Karena grooming ini sifatnya silent dan bertahap,” ujarnya.
Perubahan Perilaku Jadi Kunci Deteksi Dini
Menurut dr. Ariani, anak yang menjadi korban grooming umumnya mengalami perubahan sikap yang cukup signifikan. Mereka bisa menjadi lebih tertutup, mudah marah, cemas, bahkan enggan berkomunikasi dengan keluarga.
Selain itu, anak juga mulai menyimpan rahasia, terutama terkait aktivitas digitalnya. Penggunaan gadget yang semakin tertutup, seperti mengunci ponsel atau sering berkomunikasi dengan orang yang tidak keluarga kenal, menjadi tanda yang perlu terwaspadai.
“Kalau anak tiba-tiba punya barang mahal, seperti gadget atau aksesori yang tidak bisa dijelaskan asalnya, itu red flag,” jelasnya.
Tak hanya itu, korban juga cenderung mengalami perubahan dalam lingkungan sosialnya. Anak bisa menjauh dari teman sebaya, lebih sering berinteraksi dengan orang yang lebih tua, hingga mengalami penurunan prestasi di sekolah.
Lebih lanjut, dr. Ariani menjelaskan bahwa child grooming terjadi melalui tahapan yang sistematis, mulai dari mendekati anak, membangun kepercayaan, hingga akhirnya mengontrol korban.
“Anak dibuat merasa spesial, diperhatikan, bahkan diberi hadiah. Lama-lama dia merasa ini normal, padahal itu manipulasi,” katanya.
Dalam tahap lanjutan, pelaku bisa mulai mengisolasi anak dari lingkungan sekitar dan menanamkan rahasia, sehingga korban sulit untuk bercerita.
Dampak Jangka Panjang pada Mental Anak
Dampak dari grooming tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi psikologis anak dalam jangka panjang.
“Dampaknya bisa ke mental, ke psikososial, bahkan sampai muncul perilaku berisiko seperti depresi atau keinginan menyakiti diri,” tegas dr. Ariani.
Karena itu, orang tua diminta tidak langsung menghakimi anak jika menemukan tanda-tanda tersebut, melainkan membangun komunikasi yang terbuka dan aman.
IDAI menekankan bahwa keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah child grooming. Anak yang merasa aman dan diperhatikan di rumah cenderung tidak mudah dimanipulasi oleh pihak luar.
Ia juga menyarankan orang tua juga untuk aktif memantau aktivitas digital anak serta mengenali lingkungan pergaulannya, baik di dunia nyata maupun maya.
“Kunci utamanya adalah komunikasi yang baik dan kehadiran orang tua dalam kehidupan anak,” pungkas dr. Ariani. (*)
Editor: Farah Nazila





