SEMARANG, beritajateng.tv – Bagi Muhamad Tejo Pramono (16), kini tidak ada lagi cerita belajar dengan penerangan sentir atau pelita berbahan bakar minyak goreng. Ia juga tidak perlu lagi khawatir buku pelajarannya terkena cipratan minyak dari proses pembakaran sumbu penerangan sederhana tersebut.
Putra semata wayang pasangan Muhroji (73) dan Munarti (65) itu kini bisa belajar dengan penerangan yang lebih layak. Rumah keluarga miskin di Desa Pledokan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, tersebut akhirnya tersambung listrik.
Ruang utama rumah yang selama ini menjadi tempat Tejo belajar tidak lagi gelap gulita saat malam hari. Petugas PLN telah memasang lampu bohlam yang mampu menerangi seluruh bagian bangunan utama rumah sederhana tersebut.
“Sekarang saya bisa membaca dengan nyaman, tidak lagi menggunakan penerangan sentir yang temaram dan melelahkan mata seperti sebelumnya,” ungkap Tejo saat ditemui di rumahnya, Desa Pledokan, Jumat 23 Juli 2026.
Setelah kisah keluarga yang puluhan tahun hidup tanpa akses listrik tersebut mencuat di berbagai media massa, Pemerintah Kecamatan Sumowono dan Pemerintah Desa Pledokan langsung merespons. Petugas PLN yang melayani wilayah setempat juga segera menindaklanjutinya.
BACA JUGA: Puluhan Tahun Tanpa Listrik, Bupati Pastikan Rumah Warga Miskin di Pledokan Segera Teraliri PLN
Setelah melakukan survei pada Rabu 21 Juli 2026, petugas PLN memasang trafo untuk memenuhi kebutuhan sambungan listrik ke rumah keluarga Muhroji. Sehari kemudian, tepatnya Kamis 22 Juli 2026, petugas langsung memasang instalasi listrik ke rumah tersebut.
Munarti mengaku tidak menyangka penyambungan listrik di rumahnya bisa berlangsung begitu cepat.
“Saya kira masih besok-besok, ternyata kemarin langsung dipasang dan semalam rumah sudah terang,” ungkapnya.
Bagi Munarti dan keluarganya, kehadiran listrik sangat membantu aktivitas sehari-hari. Kini mereka tidak perlu lagi mengandalkan alat penerangan sederhana yang cahayanya terbatas.
Petugas PLN memasang dua lampu listrik, masing-masing di bagian teras dan ruang utama rumah. Dengan begitu, seluruh aktivitas keluarga pada malam hari menjadi lebih mudah.
“Kami bersyukur, 20 tahun menanti listrik bisa tersambung ke rumah, sekarang sudah terwujud. Terima kasih semua yang sudah membantu,” tegasnya.
Kepala Desa Pledokan, Alimin, mengatakan pemasangan listrik dilakukan setelah Bupati Semarang menginstruksikan Camat Sumowono untuk segera menindaklanjuti kondisi keluarga Muhroji.
Pemerintah desa bersama camat kemudian mengecek lokasi dan berkoordinasi dengan PLN. Setelah petugas memasang trafo, PLN langsung menyambungkan jaringan listrik ke rumah Muhroji pada Kamis sore.
“Pemasangan sambungan listrik ke rumah Pak Muhroji ini semuanya gratis dan menggunakan listrik prabayar dengan daya 450 VA,” jelas Alimin.
Ia menambahkan, Pemerintah Desa Pledokan sebenarnya sudah berupaya mengajukan pemasangan listrik untuk rumah Muhroji sejak 2021. Namun, saat itu pengajuan terkendala faktor teknis karena jarak dari sambungan listrik terakhir ke rumah Muhroji mencapai sekitar 560 meter.
Untuk meringankan beban keluarga Muhroji, Alimin juga berkomitmen menanggung biaya pembelian token listrik bagi warganya tersebut.
“Insyaallah, selama masih mendapat kepercayaan memimpin Desa Pledokan, saya yang menanggung,” tegasnya.
BACA JUGA: Hidup 20 Tahun Tanpa Listrik, Keluarga Miskin di Sumowono Bertahan dengan Sentir Berbahan Minyak Goreng
Alimin juga memastikan keluarga Muhroji selama ini rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah desa hingga pemerintah pusat. Bantuan tersebut antara lain berupa Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD), bantuan pangan, dan program bantuan lainnya.
Terakhir, pada pertengahan Juni 2026, keluarga Muhroji menerima bantuan pangan berupa beras dan minyak. Bantuan rutin lainnya juga telah diterima setiap tahun sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Demikian halnya bantuan rutin juga sudah diterimakan setiap tahun sesuai ketentuan yang berlaku,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila




