SEMARANG, beritajateng.tv – Olahraga padel yang tengah booming di Jawa Tengah masih bergantung pada atlet berlatar belakang tenis. Pengurus Besar Padel Indonesia (PBPI) Jawa Tengah mencatat sekitar 80 persen atlet padel saat ini merupakan mantan atau pemain aktif tenis yang beralih ke cabang olahraga tersebut.
Ketua PBPI Jawa Tengah, Arganto Wibowo, mengatakan kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena padel memiliki karakter permainan yang paling dekat dengan tenis maupun squash.
“Saat ini di Jawa Tengah sendiri untuk atletnya mungkin 80 persen masih dari atlet tenis. Karena memang padel merupakan racket sport yang paling mendekati squash dan tenis,” ujar Arganto pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Meski demikian, ia menegaskan PBPI tidak ingin terus bergantung pada atlet yang berpindah dari tenis. Organisasi kini mulai fokus membangun regenerasi melalui pembinaan usia dini agar muncul atlet-atlet murni dari cabang padel.
“Kami berharap nanti terus berkembang sehingga muncul bibit-bibit asli yang berasal dari pembinaan padel,” katanya.
BACA JUGA: Golf Belum Pudar di Tengah Tren Padel, MST Golf Pilih Semarang untuk Ekspansi Pertama Luar Jabodetabek
Untuk mewujudkan hal tersebut, PBPI mulai menggencarkan turnamen kelompok umur dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami mulai menggencarkan turnamen kelompok umur agar bibit-bibit yang muncul tidak hanya pada usia matang, tetapi juga usia dini,” jelasnya.
Menurut Arganto, perkembangan padel di kalangan anak-anak juga mulai terlihat. Lapangan padel kini semakin banyak terisi pemain usia 8 hingga 16 tahun.
“Saya lihat lapangan-lapangan padel sekarang mulai terisi kelompok umur mulai usia 8 tahun sampai 14 dan 16 tahun. Potensinya untuk masa depan masih sangat besar,” ungkapnya.
Ia menambahkan, meski baru populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, padel sebenarnya telah berkembang di dunia sejak puluhan tahun lalu sehingga diyakini bukan sekadar tren sesaat.
“Olahraga padel sebetulnya sudah lama, sekitar tahun 60 atau 70-an sudah ada. Namun baru eksis di Indonesia,” ujarnya.
Pelti Akui Sebagian Pemain Tenis Beralih ke Padel
Sementara itu, Pengurus Persatuan Tennis Seluruh Indonesia (Pelti) Jawa Tengah, Deddy Soeryana, mengakui booming padel membawa dampak terhadap komunitas tenis. Sebagian pemain mulai beralih karena banyaknya turnamen padel dengan hadiah yang menarik.
“Booming padel sangat berpengaruh. Sebagian pemain-pemain tenis itu lari ke padel, terutama karena sering ada turnamen-turnamen padel yang hadiahnya cukup menggiurkan,” kata Deddy saat beritajateng.tv konfirmasi pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Meski begitu, ia menilai fenomena tersebut belum menjadi ancaman serius bagi olahraga tenis karena masih banyak atlet yang tetap memilih bertahan.
“Ada sebagian yang betul-betul beralih ke padel dan sudah tidak main tenis lagi. Tapi masih banyak juga yang tetap konsen di tenis, bahkan ada yang memang tidak mau bermain padel sama sekali,” ujarnya.
Menurut Deddy, tenis dan padel memiliki karakter permainan yang berbeda. Selain ukuran lapangan yang lebih kecil, padel juga memungkinkan bola memantul ke dinding sehingga strategi permainan menjadi berbeda dibanding tenis.
Dispora Kota Semarang Dukung Pembentukan Atlet Sejak Dini
Sebelumnya, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Semarang, Fravarta Sadman, menyampaikan dukungan karena melihat semakin banyak anak-anak usia pembinaan tertarik mencoba olahraga padel.
Pihaknya juga berencana berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar olahraga padel mulai diperkenalkan melalui kompetisi tingkat sekolah.
“Kami nanti akan mencoba menghubungi Dinas Pendidikan supaya bisa ada kejuaraan padel untuk anak-anak SD dan SMP,” ujar Fravarta.
BACA JUGA: Rekor Nasional! 800 Atlet Ramaikan Sirnas Padel Open Seri II di Semarang
Ia berharap pengelola lapangan turut menyediakan ruang dan waktu latihan khusus bagi anak-anak.
“Kami mengharap pemilik lapangan menyediakan fasilitas atau waktu untuk anak-anak usia dini yang berlatih. Saya melihat di beberapa lokasi sudah banyak anak-anak usia pembinaan yang mulai menyukai padel,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





