SEMARANG, beritajateng.tv – Dampak musim kemarau mulai ԁirasakan warga Dusun Kebontaman, Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Dalam beberapa pekan terakhir, ketersediaan air bersih semakin terbatas akibat menurunnya debit sumur dan sejumlah sumber mata air yang selama ini menjadi andalan masyarakat.
Kondisi tersebut membuat sekitar 300 kepala keluarga (KK) di Dusun Kebontaman mulai kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk aktivitas sehari-hari.
Persediaan air di tandon umum yang tersedia di lingkungan dusun juga terus menipis sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.
BACA JUGA: Jelang Puncak Kemarau, BPBD Kabupaten Semarang Siagakan 750 Ribu Liter Air Bersih
Salah seorang warga, Sarti (52), mengaku keluarganya kini harus berhemat dalam menggunakan air. Untuk kebutuhan mandi dan mencuci pakaian, ia memilih memanfaatkan aliran sungai. Sementara kebutuhan memasak ԁipenuhi dengan mengambil air dari sumur milik tetangga.
“Awalnya setiap hari masih bisa mengambil sekitar 10 galon bekas air mineral. Sekarang paling banyak hanya enam galon per hari,” ujarnya saat ԁitemui di sela mengambil air bersih, Kamis, 16 Juli 2026.
Warga lainnya, Salmi (64), mengatakan sumur berkedalaman sekitar tujuh meter miliknya biasanya melimpah saat musim hujan. Bahkan, air sering meluber hingga ke permukaan.
Namun saat musim kemarau, debit air turun drastis sehingga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan banyak warga Kalikayen.
BACA JUGA: Antisipasi Musim Kemarau, PDAM Kota Salatiga Siagakan Tiga Armada Dropping Air Bersih
Menurut Salmi, sebelumnya air dari sumur tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan belasan kepala keluarga. Kini warga harus bergantian mengambil air karena debitnya semakin kecil.
“Kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak Juni lalu dan hampir selalu terjadi setiap musim kemarau,” katanya.
Keterbatasan air bersih membuat aktivitas warga ikut terganggu. Mereka harus mengatur jadwal pengambilan air agar seluruh warga tetap mendapatkan bagian, meski jumlahnya sangat terbatas.
Warga berharap pemerintah daerah segera memberikan solusi jangka pendek maupun jangka panjang, seperti bantuan dropping air bersih atau pembangunan sumber air yang lebih memadai. Dengan demikian, masyarakat tidak lagi menghadapi kesulitan yang sama setiap musim kemarau tiba. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





