SEMARANG, beritajateng.tv – Perjalanan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Banyumas menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar mengajarkan mata pelajaran, tetapi juga membangun harapan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kepala SRMP 13 Banyumas, Siti Isbandiyah, bahkan mengaku sempat menangis pada pekan pertama mendampingi para siswa. Ia terenyuh melihat kondisi kehidupan mereka.
Isbandiyah yang sebelumnya memimpin SMA Negeri 1 Purwokerto dan SMA Negeri 2 Purwokerto mengaku pengalaman di Sekolah Rakyat mengubah cara pandangnya tentang makna pendidikan.
Ia menyaksikan langsung siswa yang datang dengan kondisi fisik kurang gizi, kehilangan orang tua, hingga ԁiasuh kerabat karena keterbatasan ekonomi.
“Di Sekolah Rakyat ini harus memiliki jiwa yang tulus, sabar, dan ikhlas. Yang kami hadapi bukan hanya pembelajaran, tetapi bagaimana menyiapkan mereka berani memutus mata rantai kemiskinan,” ungkap Isbandiyah.
Setahun mendampingi siswa, perubahan besar mulai terlihat. Anak-anak yang awalnya minder kini tampil lebih sehat, percaya ԁiri, ԁisiplin, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran dan pengembangan ԁiri di asrama.
Menurutnya, perubahan itu lahir berkat pendampingan menyeluruh, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan, hingga dukungan terhadap keluarga siswa.
BACA JUGA: Dewan Soroti Rasio Guru di Sekolah Rakyat Semarang, 270 Siswa Hanya Diajar 20 Pengajar
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi ketika seorang siswa mengaku bercita-cita menjadi pedagang cilok keliling.
Alih-alih mematahkan mimpi tersebut, Isbandiyah justru mengajak siswa itu membayangkan masa depan yang lebih besar, seperti memiliki restoran cilok yang terkenal hingga mancanegara.
“Anak-anak dari keluarga miskin sering kali tidak pernah ԁikenalkan pada kemungkinan-kemungkinan besar dalam hidup. Tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menanamkan mimpi kepada mereka,” katanya.
Semangat serupa juga ԁirasakan guru Informatika SRMP 13 Banyumas, Putri Sisa Nurdin. Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta itu mengaku awalnya gugup saat mendapat penugasan di Sekolah Rakyat.





