Jateng

Akademisi Ilmu Sosial dan Politik Beri Nilai Model Kepemimpinan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi

×

Akademisi Ilmu Sosial dan Politik Beri Nilai Model Kepemimpinan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi

Sebarkan artikel ini
Acara Welcoming Dinner Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Jumat 23 Oktober 2026 (Foto: Dok. Pemprov Jateng)
Acara Welcoming Dinner Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Jumat 23 Oktober 2026 (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sejumlah akademisi ilmu sosial dan politik berbagai perguruan tinggi di Indonesia menyoroti kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Mereka menilai Ahmad Luthfi punya gaya kepemimpinan tersendiri yang dinilai merakyat, humanis, serta terbuka terhadap kolaborasi dengan kalangan akademisi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Penilaian tersebut tampak pada acara Welcoming Dinner Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Jumat 23 Oktober 2026.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, Finnah Fourqoniah mengatakan,  Gubernur Luthfi menjelaskan berbagai persoalan Jawa Tengah sekaligus langkah untuk mengatasinya.

“Saya tadi mendengarkan sambutan Pak Gubernur Ahmad Luthfi. Dia memahami konteks permasalahan dan mencoba membuat kegiatan atau program terkait masalah tersebut,” katanya.

Finnah bilang, pemimpin daerah harus kemampuan memahami persoalan sebagai hal mendasar dalam kepemimpinan. Dia menilai Ahmad Luthfi mampu menyampaikan program kebijakan untuk menangani persoalan di tengah masyarakat.

“Gubernur memiliki kepekaan terhadap permasalahan tersebut. Banyak daerah tidak punya itu,” ucapnya.

Dia berharap pendekatan di Jawa Tengah itu dapat menjadi referensi bagi pemerintahan di daerah lain.

Secara khusus, Finnah menyoroti keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu pemerintah merumuskan penyelesaian berbagai persoalan pembangunan.

Ketua Fordekiis sekaligus mantan Dekan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Mas’udi mengatakan, Gubernur Luthfi memiliki karakter kepemimpinan tersendiri.

“Dari gaya maupun dari sisi kebijakannya, dia salah satu tipe gubernur yang mennjadikan persoalan masyarakat sebagai prioritas untuk diselesaikan,” bilangnya.

Menurutnya, prinsip collaborative governance (pemerintahan kolaboratif) yang Pemprov Jateng usung membuka ruang bagi berbagai pihak untuk terlibat dalam proses pembangunan.

Wawan berkata, hubungan pemerintah dengan perguruan tinggi semestinya berjalan dua arah.

Kampus memiliki hasil penelitian, inovasi, dan kapasitas keilmuan yang dapat menjadi masukan kebijakan.

BACA JUGA: Kisah Tambakrejo Semarang, Dari Kampung Tambak Tergerus Abrasi Menjadi Desa Mangrove Mandiri

Sebaliknya, persoalan yang dihadapi pemerintah bisa menjadi bahan kajian akademik untuk menemukan solusi yang dapat diterapkan.

“Kami tahu bahwa kolaborasi ini menjadi kunci paling pokok agar inovasi-inovasi, pemikiran-pemikiran yang ada di kampus itu bisa menginspirasi kebijakan yang ada di pemerintah,” ucapnya.

Bagi Wawan, tata kelola kolaboratif juga perlu menjangkau dunia usaha dan masyarakat.

Dengan demikian, katanya, penyelesaian persoalan pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sekaligus melibatkan pihak-pihak yang memiliki sumber daya dan keahlian sesuai kebutuhan.

BACA JUGA: Saat Mangrove Jadi Penjaga Masa Depan, Pegadaian dan Pemkot Bergerak Hijaukan Pesisir Kota Tegal

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar, Supriadi Torro menilai, sambutan Gubernur Jateng memperlihatkan gaya kepemimpinan yang humanis.

“Apa yang beliau angkat sebagai satu persoalan, kemudian dia beri solusi. Semua langkah-langkahnya terukur,” katanya.

Supriadi juga melihat pentingnya perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah. Menurutnya, kapasitas keilmuan kampus dapat membantu pemerintah menentukan arah kebijakan sekaligus mengevaluasi persoalan yang belum terselesaikan.

Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjalin kerja sama dengan 123 perguruan tinggi di wilayahnya melalui berbagai program.

Bentuknya berupa Kuliah Kerja Nyata (KKN), desalinasi, pendampingan usaha, pendataan rumah tidak layak huni, hingga penanganan stunting.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan daerah. Salah satunya melalui kegiatan KKN tematik dan pendampingan desa binaan.

Luthfi mengatakan, sejumlah tantangan yang dihadapi Jawa Tengah, mulai dari penanganan rob di wilayah pesisir, kebutuhan tenaga kerja siap pakai, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

BACA JUGA:Hidup Berdampingan dengan Rob, Warga Pesisir Demak Harapkan Pemulihan Mangrove

Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu, termasuk ilmu sosial dan politik.

Luthfi mengatakan, pembangunan juga harus menyentuh kualitas manusia secara menyeluruh.

Karena itu, FISIP dia harapkan mengambil peran dalam memahami persoalan sosial dan memberikan kontribusi terhadap arah pembangunan daerah. (adv)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp